BUTON UTARA – Sibersultra.com

Dalam rangka Safari Ramadhan, Wakil Bupati Buton Utara (Butur), Rahman, mengunjungi Desa Koepisino, Kecamatan Bonegunu, Rabu (19/03/2025).

Selain bersilaturahmi dengan warga, ia juga meninjau kondisi bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) serta sekolah-sekolah di daerah tersebut, termasuk SMP, SD, dan TK.

Setelah melihat langsung kondisi di lapangan, Rahman mengungkapkan keprihatinannya terhadap sejumlah bangunan yang dinilai sudah tidak layak.

“Bangunan pendidikan di sini cukup parah. Gedung tua di SMPN 4 Bonegunu seharusnya sudah dirobohkan, sementara kantor SD juga sudah tidak layak pakai. Ini menyangkut keselamatan anak-anak kita yang menimba ilmu,” ujarnya.

Ia berkomitmen segera melaporkan kondisi ini kepada Bupati serta berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk mengupayakan anggaran perbaikan.

“Pulang dari kegiatan ini saya segera melaporkan kondisi ini ke pak bupati agar di panggil kadis pendidikan untuk kita berkoordinasi supaya segera di anggarkan perbaikannya,” tegas Rahman

Tak hanya sektor pendidikan, Rahman juga menyoroti kondisi Pustu Witamemea yang dinilai sudah tidak layak digunakan. Ia bahkan menerima keluhan dari pemerintah desa dan warga terkait minimnya tenaga kesehatan.

”MTQ

“Perawat sudah setahun tidak ada, sementara bidan desa baru datang jika ditelepon karena berdomisili di luar desa. Ini masalah serius yang harus segera ditangani,” ungkapnya.

Rahman berjanji akan segera melaporkan masalah ini kepada Bupati agar Dinas Kesehatan segera mencari solusi.

“Ini juga segera saya Akan laporkan ke pak Bupati agar memnggil kadis kesehatan dalam rangka koordinasi,untuk kita carian solusi karena sifatnya segera dan mendesak,” katanya

Sebelumnya diberitakan, Warga Desa Koepisini, Kecamatan Bonegunu, Kabupaten Buton Utara, keluhkan kebutuhan akan pelayanan dasar yang layak.

Adapun yang mereka keluhkan seperti tidak adanya tenaga kesehatan, kurangnya penerangan listrik dan buruknya jaringan telekomunikasi.

Seorang Warga mengaku bahwa di desa tersebut tidak ada tenaga kesehatan yang standby sehingga menyulitkan mereka untuk mendapatkan pertolongan pertama kalau ada warga yang sakit.

Jika ingin mendapatkan pertolongan pertama mereka harus menempuh perjalanan laut yang tidak bisa dipastikan kondisi ombak, apakah kencang atau tidak.

“Dengan kondisi itu yang beresiko tidak hanya orang yang sakit melainkan yang mengantar juga,” ucap Seorang Warga.

Laporan: Redaksi.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook