BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com

Kesabaran masyarakat Desa Pongkowulu, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara (Butur), Sulawesi tenggara (Sultra), tampaknya benar-benar telah mencapai batas.

Setelah puluhan tahun hidup dengan kondisi jalan yang rusak dan tak kunjung mendapat perhatian serius dari pemerintah, warga akhirnya sepakat mengambil langkah yang lebih tegas.

Dalam rapat bersama yang melibatkan Pemerintah Desa Pongkowulu, tokoh masyarakat, dan sejumlah elemen masyarakat, diputuskan bahwa aksi pemblokiran jalan akan dilaksanakan pada 4 Juni 2026 mendatang.

Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas kondisi ruas jalan yang disebut telah terbengkalai selama kurang lebih 36 tahun.

Bagi warga Pongkowulu, jalan tersebut bukan sekadar sarana transportasi. Jalan itu adalah urat nadi kehidupan yang setiap hari dilalui masyarakat untuk bekerja, bersekolah, mengakses layanan kesehatan, hingga mengangkut hasil pertanian. Namun ironisnya, selama puluhan tahun kondisi jalan itu tetap memprihatinkan.

Salah seorang warga Desa Pongkowulu yang juga berprofesi sebagai sopir angkutan lintas Kabupaten Baubau–Ereke, Haryono alias Tato, mengaku prihatin melihat kondisi jalan yang menurutnya seolah luput dari perhatian pemerintah.

Pria yang telah mengabdikan diri sebagai sopir travel lintas kabupaten selama kurang lebih 16 tahun itu mengatakan, masyarakat sudah terlalu lama menunggu realisasi pembangunan jalan yang layak.

”MTQ

“Ini jalan yang terbengkalai kurang lebih 36 tahun. Selama ini pemerintah seakan tidak pernah terketuk pintu hatinya untuk melihat langsung penderitaan masyarakat yang setiap hari melintas di sini,” ujar Tato.

Menurutnya, kondisi jalan di Desa Pongkowulu bahkan menyisakan cerita yang memilukan. Hamparan aspal yang terlihat di beberapa titik bukanlah hasil pembangunan pemerintah.

“Itu bukan bekas jalan yang pernah diaspal. Itu sisa tumpahan aspal dari mobil yang pernah terbalik saat mengangkut material. Bahkan ada masyarakat yang rela berbondong-bondong ke lokasi aspal di Nambo dan Lawele untuk membeli aspal sendiri lalu menambal jalan secara swadaya,” ungkapnya.

Fakta tersebut, kata Tato, menjadi gambaran nyata betapa besar kepedulian masyarakat terhadap jalan yang setiap hari mereka gunakan, sekaligus menunjukkan minimnya perhatian dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab.

Meski aksi pemblokiran akan dilakukan pada 4 Juni mendatang, para sopir angkutan lintas Baubau–Ereke memastikan pelayanan kepada penumpang tetap berjalan sebagaimana biasa. Hanya saja, jalur perjalanan akan dialihkan sementara melalui Maligano guna menghindari lokasi aksi.

“Kami sampaikan kepada seluruh penumpang setia travel Baubau–Ereke bahwa pelayanan tetap berjalan normal. Namun rute perjalanan akan diputar melalui Maligano apabila pemblokiran jalan berlangsung sesuai rencana,” jelasnya.

Sebagai sopir yang hampir setiap hari melintasi ruas jalan tersebut, Tato mengaku telah menyaksikan banyak kecelakaan yang terjadi akibat kondisi jalan yang rusak, berlubang, dan berbahaya, khususnya di kawasan tanjakan Pongkowulu yang dikenal rawan kecelakaan.

Ia berharap pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap kondisi yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

“Kami sebagai driver lintas kabupaten Baubau–Ereke yang juga warga Desa Pongkowulu, bersama masyarakat Kecamatan Kambowa, berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata. Jangan hanya tutup mata. Korban sudah tidak terhitung lagi akibat kondisi jalan di Kecamatan Kambowa, khususnya di Desa Pongkowulu,” tegasnya.

Kini, hitung mundur menuju 4 Juni 2026 mulai berjalan. Di tengah harapan yang semakin menipis, masyarakat Pongkowulu memilih menyuarakan keresahan mereka melalui aksi yang diyakini sebagai jalan terakhir untuk menarik perhatian pemerintah.

Pertanyaannya, apakah suara masyarakat yang telah menunggu selama 36 tahun ini akhirnya akan didengar, atau kembali tenggelam di tengah janji pembangunan yang tak kunjung datang.

Laporan: Redaksi.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook