KONAWE SELATAN – Sibersultra.com

Denyut ekonomi di sekitar kawasan pertambangan ternyata tak hanya dirasakan oleh para pekerja perusahaan.

Bagi pedagang kecil, aktivitas perusahaan juga menjadi salah satu sumber perputaran ekonomi yang menghidupi keluarga mereka.

Hal itu dirasakan Hapzah, salah seorang warga Wonuakongga, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari usaha kios, kue dan katering di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya.

Hapzah mengaku mulai menjalankan usaha di Desa Wonuakongga sejak 2023. Setelah memiliki modal yang cukup, pada 2025 ia kemudian memindahkan usahanya ke Torobulu hingga saat ini.

Menurutnya, ketika aktivitas PT WIN masih berjalan, usaha yang digelutinya mampu menghasilkan omzet yang cukup menjanjikan.

Dari penjualan kue saja, dalam sehari omzetnya bisa mencapai sekitar Rp800 ribu. Sementara usaha katering bahkan mampu menghasilkan sekitar Rp1,5 juta per hari.

Namun, kondisi tersebut berubah setelah aktivitas PT WIN tidak lagi berjalan.

”MTQ

“Dampaknya sangat terasa. Dulu dari usaha kue bisa sampai Rp800 ribu sehari, katering sekitar Rp1,5 juta. Setelah PT WIN tutup, untuk mendapatkan Rp300 ribu sehari saja sudah susah. Katering juga kadang ada, kadang tidak,” ujar Hapzah kepada media ini, Minggu (16/8/2026).

Baginya, keberadaan perusahaan selama ini tidak hanya memberikan peluang kerja bagi masyarakat.

Aktivitas perusahaan juga secara tidak langsung menghidupkan usaha-usaha kecil di sekitar kawasan tersebut.

Ia menceritakan, berbagai kegiatan perusahaan maupun acara yang melibatkan karyawan kerap menjadi peluang bagi pedagang untuk mendapatkan pesanan makanan.

“Kalau ada acara atau kegiatan, pihak perusahaan biasanya membeli kue-kue di kios. Istri-istri karyawan juga setiap hari belanja, baik kue maupun nasi,” katanya.

Menurutnya, rantai ekonomi tersebut tidak berhenti di kios miliknya. Banyak pedagang kecil lainnya turut merasakan manfaat ketika aktivitas perusahaan masih berjalan.

Ia menyebut pedagang sayur, penjual asam, pedagang kue hingga pedagang kaki lima di Pasar Desa Torobulu menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang ikut terdampak ketika aktivitas perusahaan berhenti.

“Dulu setelah selesai jualan, hasilnya lumayan untuk membeli ikan dan beras. Sekarang, hasil jualan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk kebutuhan anak sekolah saja sudah terasa berat,” tuturnya.

Hapzah menilai, dampak ekonomi dari keberadaan perusahaan juga tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi tambang.

Para pedagang dari luar desa yang datang berjualan ke Torobulu juga ikut menikmati ramainya aktivitas ekonomi saat perusahaan masih beroperasi.

Menurutnya, semakin banyak aktivitas ekonomi di suatu wilayah, semakin besar pula peluang masyarakat kecil untuk mendapatkan penghasilan.

Selain membuka peluang ekonomi, Ia juga mengaku mengetahui adanya sejumlah bentuk bantuan yang pernah diberikan PT WIN kepada masyarakat.

Di antaranya bantuan pembangunan jembatan dan masjid, dukungan untuk sekolah, bantuan bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak dan mi instan, hingga bantuan air bersih ke sejumlah desa.

“PT WIN kadang juga membagikan air bersih ke desa-desa,” ujarnya.

Ia juga menyebut perusahaan pernah memberikan bantuan beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu, meskipun menurutnya bantuan tersebut tidak diberikan secara rutin.

“Bukan sering, tapi ada,” katanya.

Bagi dia, berbagai bantuan tersebut setidaknya menjadi bentuk dukungan perusahaan terhadap masyarakat dan pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan sosial di sekitar wilayah operasional.

Karena itu, ia bersama sejumlah pedagang lainnya berharap aktivitas PT WIN dapat kembali berjalan apabila seluruh persyaratan dan perizinan yang dibutuhkan telah terpenuhi.

Harapan tersebut, kata dia, bukan semata-mata karena kepentingan pribadi pedagang, tetapi karena aktivitas perusahaan selama ini telah menciptakan mata rantai ekonomi yang cukup panjang.

“Saya dan teman-teman pedagang berharap PT WIN bisa mendapatkan izin untuk beroperasi lagi. Dengan adanya perusahaan, bisa terjalin kerja sama lintas sektor dengan pemerintah dalam pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Ia berharap keberadaan dunia usaha dan pemerintah dapat berjalan berdampingan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Lebih lanjut, Ia menyadari pemerintah memiliki keterbatasan dalam memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.

Karena itu, menurutnya, kehadiran perusahaan yang beroperasi sesuai ketentuan dapat menjadi salah satu mitra dalam mendukung pembangunan daerah.

“Kalau ada perusahaan yang beroperasi, bukan hanya masyarakat yang terbantu karena lapangan pekerjaan. Pedagang kecil juga ikut merasakan perputaran ekonominya. Pemerintah daerah juga bisa terbantu dalam pembangunan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat,” pungkasnya.

Bagi pedagang kecil sepertinya, berhentinya aktivitas tambang bukan sekedar soal perusahaan yang tidak lagi beroperasi.

Ada cerita lain yang ikut berhenti di belakangnya, kios yang mulai sepi, pesanan katering yang berkurang, pedagang pasar yang kehilangan pembeli, hingga uang belanja keluarga yang semakin sulit dikumpulkan.

Dan di sanalah denyut ekonomi kecil masyarakat terlihat ketika satu aktivitas besar berhenti, dampaknya bisa menjalar jauh hingga ke meja makan keluarga para pedagang.

Laporan: Asman Ode.