BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com

Semangat perjuangan warga Desa Pongkowulu, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara (Butur), dalam menuntut perbaikan jalan poros Pongkowulu–Baluara terus menguat.

Dalam aksi pemblokadean jalan yang digelar Kamis (4/6/2026), perhatian publik tertuju pada antusiasme para ibu rumah tangga yang ikut turun langsung ke lokasi aksi.

Dengan membawa berbagai poster berisi tuntutan dan harapan kepada pemerintah, para ibu berdiri di barisan depan menyuarakan keresahan yang selama puluhan tahun mereka rasakan.

Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa persoalan jalan rusak bukan hanya menyangkut akses transportasi, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga aktivitas ekonomi keluarga.

Dalam poster yang mereka bawa, tersirat kekecewaan mendalam terhadap kondisi jalan yang hingga kini belum mendapatkan penanganan memadai.

Dalam aksi tersebut, suara para ibu rumah tangga menjadi salah satu yang paling menyentuh perhatian massa.

Melalui orasi yang disampaikan di hadapan warga dan aparat yang berjaga, seorang ibu dari Desa Pongkowulu menyampaikan keresahan yang selama ini dipendam masyarakat akibat kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki.

”MTQ

Dengan nada penuh haru, ia menegaskan bahwa kehadiran para perempuan dalam aksi tersebut bukanlah untuk mencari perhatian, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan kampung mereka.

“Hari ini kami, ibu-ibu Desa Pongkowulu, tidak berada di dapur. Kami tidak berada di rumah. Kami meninggalkan kasur dan dapur kami karena daerah kami sedang tidak baik-baik saja,” serunya di hadapan massa aksi.

Ia mengatakan bahwa selama puluhan tahun masyarakat harus hidup berdampingan dengan debu dan kerusakan jalan yang belum mendapat perhatian serius.

“Kami berdiri di atas tanah ini, di atas debu yang setiap hari kami telan selama 36 tahun. Bayangkan, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu pejabat yang terhormat, 36 tahun bukanlah waktu yang singkat. Generasi berganti, anak-anak tumbuh dewasa, tetapi jalan kami masih seperti ini,” lanjutnya.

Bagi warga, kehadiran para ibu di barisan depan menjadi gambaran nyata bahwa persoalan jalan Pongkowulu–Baluara telah berdampak pada seluruh lapisan masyarakat.

Massa berharap jeritan yang disampaikan para ibu tersebut dapat menggugah hati para pemangku kebijakan untuk segera merealisasikan pembangunan ruas jalan yang berstatus jalan provinsi tersebut.

Warga menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan bukan untuk menentang pemerintah, melainkan untuk memperjuangkan hak dasar masyarakat atas akses jalan yang layak setelah menunggu selama 36 tahun.

“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya meminta jalan yang layak agar anak-anak kami bisa sekolah dengan aman, hasil kebun kami bisa diangkut dengan mudah, dan masyarakat tidak lagi menjadi korban debu dan lumpur setiap hari,” ujar salah seorang peserta aksi.

Warga menilai selama 36 tahun jalan yang menjadi akses utama masyarakat Pongkowulu tersebut belum pernah merasakan pembangunan aspal secara menyeluruh.

“Sudah terlalu lama kami menunggu. Anak-anak sekolah, petani, dan masyarakat setiap hari melewati jalan yang sama. Kami hanya ingin mendapatkan hak yang sama seperti daerah lain,” ungkap salah seorang peserta aksi.

Aksi yang berlangsung damai tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan warga atas lambannya perhatian terhadap ruas jalan yang berstatus jalan provinsi Sulawesi Tenggara.

Masyarakat berharap pemerintah tidak lagi menunda langkah konkret untuk memperbaiki akses vital yang menghubungkan berbagai aktivitas sosial dan ekonomi warga.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh media ini, ratusan warga Pongkowulu melakukan pemblokadean Jalan Poros Bau-Bau–Ereke sebagai bentuk protes atas kondisi jalan yang dinilai telah puluhan tahun terabaikan.

Aksi tersebut juga mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat, mahasiswa, hingga sejumlah pemangku kepentingan yang mendesak agar pemerintah segera merealisasikan perbaikan jalan Pongkowulu–Baluara.

Di tengah gelombang protes warga, Pemerintah Kabupaten Buton utara, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang telah menyampaikan bahwa usulan penanganan ruas jalan tersebut sedang diperjuangkan ke pemerintah pusat.

Namun bagi warga Pongkowulu, perjuangan administrasi itu belum cukup menjawab penderitaan yang telah mereka rasakan selama lebih dari tiga dekade.

Kehadiran para ibu dalam aksi kali ini menjadi bukti bahwa tuntutan perbaikan jalan bukan lagi sekedar aspirasi segelintir kelompok, melainkan suara bersama seluruh masyarakat Pongkowulu yang menginginkan akses jalan yang layak dan aman.

Dengan semangat persatuan yang ditunjukkan dalam aksi tersebut, warga berharap pemerintah daerah, pemerintah Provinsi maupun pemerintah pusat segera mengambil langkah nyata agar penantian panjang selama 36 tahun tidak kembali berujung pada janji semata.

Laporan: Redaksi.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook