Ikon Sejarah Butur Memprihatinkan, Gapura Benteng Lipu Kulisusu Rusak Parah
BUTON UTARA – Sibersultra.com
Benteng Lipu Kulisusu, salah satu ikon budaya dan situs sejarah di Kabupaten Buton Utara (Butur), kini dalam kondisi yang memprihatinkan. Benteng tersebut terletak di Desa Wasalabose, Kecamatan Kulisusu.
Sayangnya, benteng yang menjadi simbol kejayaan masa lalu Butur ini tampak tak terawat. Rumput liar tumbuh di sekitarnya, dan gapura atau pintu masuk menuju area benteng mengalami kerusakan parah.
Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Kulisusu (Hipmasus) Kendari, Adi Adrianto, menyayangkan minimnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap pelestarian benteng tersebut.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Tidak ada perawatan, ditumbuhi semak belukar, dan gapuranya rusak parah,” ungkap Adit, sapaan akrabnya.
Adit menegaskan bahwa pelestarian situs sejarah seharusnya menjadi prioritas, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
“Pemerintah seharusnya segera mengambil tindakan nyata. Ini warisan sejarah yang wajib dilestarikan,” tegasnya.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, tampak jelas kerusakan pada gapura utama. Adit menyebut kondisi tersebut harus segera ditangani, terutama karena cuaca buruk dapat memperparah kerusakan.
“Langkah rehabilitasi perlu segera dilakukan. Jangan sampai bangunan bersejarah ini hancur total,” ujarnya.
Ia juga mendorong adanya pihak khusus yang diberi mandat untuk merawat dan mengawasi situs benteng secara rutin.
“Pemerintah harus menetapkan siapa yang bertanggung jawab atas perawatan dan pelestarian kawasan ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wasalabose, Rahim, mengungkapkan bahwa pemerintah desa telah beberapa kali menyuarakan perlunya perbaikan benteng, termasuk saat kunjungan reses bersama anggota DPRD Butur.
“Kami sudah sering sampaikan bahwa kondisi benteng harus segera diperbaiki. Tapi kami tak bisa menggunakan dana desa karena itu di luar kewenangan pemdes,” jelasnya kepada Sibersultra.com, Kamis (3/7/2025).
Menurutnya, gapura benteng saat ini sudah sangat memprihatinkan. Atapnya rusak dan dikhawatirkan dalam beberapa bulan ke depan rangkanya pun bisa roboh.
“Kalau hanya atap, sebenarnya biaya perbaikannya tidak terlalu besar. Tapi kalau dibiarkan, kerusakan bisa meluas,” tambah Rahim.
Ia menyebut bahwa hasil reses terakhir menyampaikan adanya efisiensi dan refocusing anggaran, sehingga perbaikan kemungkinan besar belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Rahim berharap agar perbaikan segera dilakukan, tidak hanya pada gapura tetapi juga kebersihan makam-makam di dalam benteng.
“Benteng ini salah satu ikon Butur. Maka kami harapkan instansi terkait bisa segera turun tangan,” katanya.
Lebih lanjut, Kades mengungkapkan bahwa selama ini pemerintah desa bersama warga rutin melakukan kegiatan gotong royong untuk menjaga kebersihan area benteng.
Namun, soal siapa yang memiliki tanggung jawab formal atas perawatan situs ini masih belum jelas.
“Kami belum tahu pasti siapa yang bertanggung jawab. Ada lembaga adat, ada dinas pariwisata, dan mungkin dinas lainnya. Tapi tidak ada kejelasan peran,” ujarnya.
Dia juga menyebut bahwa ada petugas kebersihan yang digaji khusus untuk merawat area benteng, namun dinilai belum bekerja secara maksimal.
“Kalau memang tanggung jawab lembaga adat, mereka harus aktif membersihkan atau bekerja sama dengan pemdes. Kalau tanggung jawab pemdes, beri kami kewenangan dan anggaran yang sesuai,” tegasnya.
Kata dia, pihaknya juga pernah mengusulkan perbaikan gapura kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Butur, namun tidak bisa diproses karena terbentur regulasi penggunaan dana desa.
Sebagai penutup, Kades Wasalabose mengajak semua pihak pemerintah daerah, instansi teknis, dan lembaga adat untuk bekerja sama menjaga kelestarian Benteng Lipu Kulisusu.
“Kami harap ada solusi konkret dari pemerintah daerah. Benteng ini warisan budaya yang harus kita rawat bersama,” pungkasnya.
Laporan: Redaksi.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook