BUTON UTARA – Sibersultra.com

Di balik hiruk-pikuk pasar rakyat dan lorong-lorong sunyi di Kabupaten Buton Utara, ada satu sosok yang nyaris tak pernah absen membawa senyum sederhana, dia adalah La Ule.

Ia Lelaki bernama asli Suleman ini bukan siapa-siapa di atas panggung gemerlap, tapi ia adalah segalanya bagi mereka yang belajar memaknai hidup dari hal kecil dan penuh ketulusan.

Sudah cukup lama ia memanggul kantong plastik berisi jeruk nipis segar. Dengan langkah kaki yang pelan namun pasti, La Ule menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, dari satu sudut pasar ke sudut lainnya.

Tak ada gerobak dorong, tak ada kendaraan bermotor. Hanya dirinya, jeruknya, dan semangat yang tak mudah lelah.

Harga jeruk yang ia tawarkan pun konsisten, Rp5.000 untuk enam biji, atau kadang tiga biji tergantung ukurannya. Bukan sekedar angka, tapi bentuk kesetiaan pada prinsip.

Di saat dunia berubah cepat, dan harga-harga naik tak menentu, La Ule tetap berdiri teguh, menjual dengan kejujuran.

“Kadang saya kasikan kepada orang tua saya sebanyak Rp20 ribu sampai Rp30 ribu,” ucapnya pelan, namun penuh kebanggaan.

”MTQ

Hasil dagang yang tak seberapa itu tidak lantas ia simpan untuk diri sendiri. Sebagian besar justru disisihkan untuk orang tuanya.

Di tengah keterbatasan, ia memilih menjadi anak yang tak lupa pulang – pulang dalam bentuk kasih sayang, meski hanya melalui lembaran rupiah sederhana.

Selain jeruk nipis, La Ule juga kerap menjual daun kedondong, daun serai, dan hasil tanaman lokal lainnya. Semua dipetik sendiri, dijual sendiri, dan dibawa sendiri. Tak ada keluhan, hanya ada keikhlasan.

Meski hidup dalam kesederhanaan, La Ule tak pernah kehilangan rasa syukurnya. Ia bahkan dikenal di media sosial lewat unggahan-unggahan lucu dan kontennya yang spontan.

Keluguannya menjadi hiburan tersendiri bagi warganet. Ia adalah bukti bahwa kebahagiaan tak harus mahal, tak perlu berpura-pura.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan semangat instan yang melanda, La Ule mengajarkan bahwa yang bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling tulus.

Kisah La Ule bukan hanya tentang menjual jeruk, tapi tentang menjual keteladanan. Ia berdagang dengan hati, bukan sekedar untuk hidup, tapi untuk memberi arti.

Dalam dunia yang semakin sibuk dan kerap lupa pada nilai-nilai dasar kehidupan, La Ule hadir sebagai pengingat, bahwa kerja keras, ketulusan, dan cinta pada keluarga adalah fondasi hidup yang sesungguhnya.

Ia tak hanya membawa jeruk di tangannya, tapi juga membawa pelajaran hidup dalam diam.

La Ule Mengajarkan kita bahwa sukses itu bukan soal seberapa besar yang kita punya, tapi seberapa dalam kita mampu memberi, walau dengan yang kecil.

Jangan pernah malu memulai dari bawah, karena yang kuat bukan mereka yang besar, tapi mereka yang tetap bertahan meski kecil. Dari La Ule, untuk kita semua.

Laporan: Redaksi.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook