Andai Puskesmas Soloy Agung Tak Pernah Ada: Potret Harapan dan Nyawa di Ujung Jalan
BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com
Bayangkan jika di Desa Soloy Agung, Kecamatan Kulisusu Barat, Kabupaten Buton Utara (Butur) tidak pernah berdiri sebuah puskesmas.
Bayangkan seorang ibu yang tengah berjuang melahirkan di tengah malam, namun harus menempuh jarak belasan kilometer menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Dan bayangkan seorang anak yang terserang demam tinggi atau seorang lansia yang tiba-tiba sesak napas sementara akses ke layanan medis masih jauh dari jangkauan.
Kondisi seperti inilah yang dulu dialami warga Soloy Agung dan desa-desa sekitarnya sebelum adanya Puskesmas Soloy Agung.
Setiap kali ada warga yang sakit dan butuh pertolongan cepat, mereka harus menempuh perjalanan panjang di jalan berlumpur dan rusak.
Bahkan terkadang menyeberangi sungai hanya untuk mendapatkan pengobatan.
Tak jarang, perjalanan panjang itu menjadi perjuangan antara hidup dan mati. Ada yang tak sempat tiba di puskesmas tujuan.
Ada pula yang akhirnya memilih berobat seadanya di rumah, karena tak kuat menanggung biaya dan jarak.
Kini, dengan hadirnya Puskesmas Soloy Agung, semua itu perlahan berubah. Warga memiliki tempat berobat yang lebih dekat, aman, dan memadai.
Petugas kesehatan bisa menjangkau pasien lebih cepat. Anak-anak mendapatkan imunisasi tepat waktu.
Para ibu hamil tak lagi cemas karena ada bidan dan tenaga medis yang siap siaga di kampung mereka sendiri.
Bagi warga Soloy Agung, keberadaan puskesmas ini bukan sekedar bangunan fisik.
Ini adalah simbol harapan, tempat penyelamat nyawa, dan wujud nyata kehadiran negara di pelosok Buton Utara.
Seorang warga, yang enggan disebut namanya, kepada media ini Ia bercerita dengan mata berkaca-kaca.
Ia menceritakan, dulu kalau ada yang sakit malam-malam, mereka bingung mau kemana. Kadang pakai ojek, kadang naik perahu kalau hujan.
“Sekarang, kalau ada Puskesmas di sini, kami tidak perlu takut lagi. Ada tempat yang bisa kami tuju,” ungkapnya, saat di temui di Kediamanya, Selasa (14/10/2025).
Senada dengan itu, Ketua BPD Desa Soloy agung juga menceritakan keberadaan fasilitas kesehatan dalam hal ini Puskesmas Soloy Agung itu sangat penting dan telah banyak membantu masyarakat desa.
Kasihan masyarakat dulu sebelum ada Puskesmas ini. Ibu-ibu yang mau melahirkan harus dibawa jauh ke tempat lain, kadang sudah melahirkan di dalam mobil, padahal jalan masih susah.
“Sekarang setelah Puskesmas ada dan sangat bermanfaat, justru muncul persoalan LP2B,” tuturnya.
Cerita sederhana itu menjadi gambaran betapa pentingnya pelayanan kesehatan yang dekat dan mudah diakses masyarakat.
Puskesmas Soloy Agung hari ini bukan hanya tentang pelayanan medis, tetapi juga tentang martabat dan keselamatan manusia.
Ini mengingatkan kita semua bahwa pembangunan sejati bukan sekedar angka dan data.
Melainkan bagaimana sebuah fasilitas bisa memberi manfaat langsung bagi kehidupan banyak orang.
Jika suatu hari puskesmas ini tidak ada, mungkin yang hilang bukan hanya sebuah bangunan.
Melainkan rasa aman, harapan, dan kesempatan hidup bagi banyak warga di pelosok Buton Utara.
Karena itu, menjaga dan mendukung keberadaan Puskesmas Soloy Agung berarti menjaga denyut kehidupan masyarakat Soloy Agung dan sekitarnya.
Hal ini agar tak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena jarak dan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Laporan: Redaksi.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook