Pesan WhatsApp Kadis PUPR Buton Utara Mengecewakan, Jalan Provinsi Ditutup Total
BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com
Kesabaran warga Desa Pongkowulu, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara (Butur), tampaknya telah mencapai batas.
Setelah beberapa hari memberi ruang bagi pemerintah untuk menindaklanjuti tuntutan perbaikan jalan, massa aksi akhirnya memutuskan menutup total ruas Jalan Provinsi Sulawesi Tenggara yang melintasi desa tersebut, Minggu (7/6/2026).
Keputusan itu lahir dari kekecewaan mendalam warga yang merasa kesepakatan yang sebelumnya telah dibangun bersama pemerintah daerah dan aparat kepolisian kembali berubah di tengah jalan.
Sebelumnya, melalui mediasi yang dipimpin Kapolres Buton Utara AKBP Totok Budi S pada Jumat (5/6/2026), massa aksi menyepakati pemberlakuan sistem buka-tutup jalan pada jam-jam tertentu.
Kesepakatan tersebut juga dihadiri Kepala Dinas PUPR Buton Utara La Ode Husima serta Kepala Bappeda Buton Utara Agus Pria Budiana.
Saat itu, warga berharap langkah tersebut menjadi titik awal penyelesaian persoalan jalan rusak yang telah lama mereka keluhkan.
Namun harapan tersebut kembali memudar setelah beredar pesan WhatsApp yang disebut berasal dari Kepala Dinas PUPR Buton Utara.
Dalam pesan tersebut, La Ode Husima meminta agar rencana pertemuan perwakilan massa aksi dengan Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Provinsi Sulawesi Tenggara ditinjau kembali.
Ia menyarankan warga menunggu kedatangan Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra ke Desa Pongkowulu yang dijadwalkan pada pekan ketiga Juni.
Selain itu, Husima juga menjelaskan bahwa dirinya akan berangkat ke Kendari untuk membahas desain Program Inpres Jalan Daerah (IJD) Tahap I di kawasan Pantura serta mengusulkan program IJD Tahap II bersama Balai Jalan.
Alih-alih menenangkan situasi, isi pesan tersebut justru memantik kemarahan warga. Masyarakat menilai mereka kembali diminta bersabar tanpa adanya kepastian kapan perbaikan jalan yang selama ini diperjuangkan akan benar-benar dilaksanakan.
Koordinator aksi, Salianto, menyebut pesan tersebut telah menimbulkan kesan bahwa warga sedang dipermainkan.
“Masyarakat Pongkowulu merasa dipermainkan oleh Kadis PUPR Buton Utara,” tegas Salianto saat menyampaikan pernyataannya di hadapan massa aksi.
Di tengah kerumunan warga, Salianto kemudian membacakan isi pesan tersebut secara terbuka. Reaksi massa pun semakin mengeras.
Bagi mereka, persoalan yang dihadapi saat ini bukan lagi soal rencana, kajian, maupun agenda pertemuan. Yang dibutuhkan adalah kepastian dan tindakan nyata.
Usai musyawarah singkat di lokasi aksi, warga akhirnya sepakat mengakhiri skema buka-tutup jalan yang sebelumnya diberlakukan.
Massa kemudian memutuskan menutup total akses jalan provinsi sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah agar segera mengambil langkah konkret.
“Kami butuh bukti nyata, bukan janji,” teriak salah seorang peserta aksi yang langsung disambut sorakan dan dukungan massa.
Penutupan total jalan tersebut menjadi sinyal bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap berbagai janji penyelesaian mulai menurun.
Warga menilai, selama bertahun-tahun mereka terus mendengar rencana dan komitmen perbaikan, namun kondisi jalan yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat masih jauh dari harapan.
Hingga berita ini diterbitkan, massa aksi masih bertahan di lokasi pemblokiran. Arus lalu lintas di ruas Jalan Provinsi Sulawesi Tenggara yang melintasi Desa Pongkowulu terpantau lumpuh total.
Warga menyatakan akan terus bertahan sampai ada kepastian dan langkah nyata dari pemerintah terkait perbaikan jalan yang mereka tuntut.
Laporan: Redaksi





Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook