BUTON UTARA – Sibersultra.com 

Kabar dua siswa SMK Negeri 1 Buton Utara yang sempat menjalani perawatan medis usai mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat membuat khawatir sejumlah orang tua.

Namun, di balik kekhawatiran itu, pihak Dapur SPPG Lelamo, Kecamatan Kulisusu Utara (Kulut), menyampaikan klarifikasi bahwa kedua siswi tersebut tidak mengalami keracunan makanan.

Kepala Dapur SPPG Lelamo, Sukarno Putra Murli, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan dokter dan hasil penelusuran riwayat kesehatan, kedua siswa yang masih duduk di bangku kelas X tersebut memiliki kondisi medis sebelumnya.

Satu siswa diketahui memiliki riwayat penyakit maag dan tercatat rutin melakukan kontrol di puskesmas, sementara satu siswa lainnya terindikasi memiliki riwayat alergi.

“Yang satu memiliki rekam medis riwayat maag dan ada catatan kontrol di puskesmas, sedangkan satu siswa lagi terindikasi memiliki riwayat alergi,” ujar Putra saat memberikan penjelasan kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Ia menuturkan, setelah mendapatkan penanganan dari tim medis di RSUD, kondisi kedua siswa berangsur membaik.

Bahkan, dokter sempat menyatakan keduanya sudah dapat pulang sekitar pukul 14.00 Wita. Namun, untuk memastikan kondisi benar-benar stabil, dokter melakukan observasi lanjutan hingga sore hari.

”MTQ

“Awalnya sekitar jam dua siang sudah diperbolehkan keluar rumah sakit, tetapi dokter masih melakukan observasi sampai sekitar jam empat sore. Karena kondisinya membaik lebih cepat, keduanya akhirnya diizinkan pulang sekitar pukul setengah empat sore,” jelasnya.

Putra menegaskan, pihak dokter tidak menyimpulkan adanya keracunan makanan pada kedua siswa tersebut.

Temuan sementara lebih mengarah pada kondisi kesehatan masing-masing siswa yang sudah ada sebelumnya.

Peristiwa ini, kata dia, menjadi bahan evaluasi penting bagi SPPG Lelamo. Pihaknya berencana melakukan pendataan ulang terhadap seluruh siswa di sekolah-sekolah penerima MBG untuk mengetahui siapa saja yang memiliki riwayat penyakit atau alergi tertentu.

“Jika ada siswa yang alergi telur, misalnya, maka kami tidak akan memberikan telur kepada siswa tersebut. Kami akan menyiapkan menu pengganti yang tetap sesuai standar Badan Gizi Nasional,” katanya.

Pada hari kejadian, menu MBG yang disalurkan terdiri atas nasi putih, telur saus tomat, tahu asam manis, sayur, timun, jagung manis, dan buah anggur.

Terkait dugaan alergi pada salah satu siswa, Putra mengaku belum dapat memastikan jenis makanan yang memicu reaksi tersebut.

Namun, gejala berupa bintik-bintik pada kulit muncul setelah siswa mengonsumsi menu MBG dan mulai membaik setelah diberikan obat antihistamin.

“Dokter belum bisa memastikan alerginya dipicu oleh makanan yang mana, tetapi indikasinya memang mengarah pada reaksi alergi setelah makan,” ujarnya.

Meski demikian, Putra menegaskan pihaknya tetap bertanggung jawab memantau perkembangan kesehatan kedua siswa tersebut.

Menurutnya, keselamatan dan kesehatan siswa penerima MBG tetap menjadi perhatian utama pihak dapur.

“Kami akan tetap profesional dan terus memantau kondisi mereka. Bagaimanapun juga ini menjadi tanggung jawab kami,” tegasnya.

Kejadian tersebut juga mendorong SPPG Lelamo memperketat pengawasan internal, termasuk memastikan seluruh karyawan menjalankan tugas sesuai prosedur dan standar keamanan pangan yang berlaku.

Di akhir keterangannya, Putra menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan di Puskesmas dan RSUD atas respons cepat dalam menangani kedua siswa, serta berterima kasih kepada pihak sekolah yang sigap melakukan koordinasi.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada puskesmas, RSUD, dan Kepala SMK Negeri 1 Kulisusu Utara atas kerja sama dan respons cepat dalam penanganan siswa,” tutupnya.

Laporan: Redaksi.