BUTON SELATAN – Sibersultra.com

Di sebuah sudut Kabupaten Buton Selatan (Busel), Sulawesi tenggara (Sultra), seorang bocah laki-laki berinisial MAL tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah.

Kini usianya menginjak delapan tahun, namun pertanyaan yang sama terus keluar dari bibir mungilnya dan membuat sang ibu tak kuasa menahan air mata.

“Di mana Bapak?” dan “Kenapa saya tidak pernah lihat Bapak saya, Mama? Teman-teman di sekolah sering bertanya siapa Bapak saya.”

Pertanyaan itu, menurut sang ibu berinisial UC, telah berulang kali terdengar selama hampir sewindu.

Di balik pertanyaan sederhana itu tersimpan kerinduan mendalam seorang anak yang belum pernah merasakan pelukan ayah kandungnya.

UC mengungkapkan bahwa pria yang diduga merupakan ayah biologis MAL adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial HM yang saat ini masih aktif bekerja di lingkungan Pemerintah Kecamatan Batuatas Barat, Kabupaten Buton Selatan.

Menurut UC, hubungan mereka bermula dengan janji manis. Ia mengaku diyakinkan bahwa akan dinikahi secara resmi, namun janji itu tak pernah terwujud.

”MTQ

“Sejak awal hubungan, dia selalu berjanji akan menikahi saya secara resmi. Tapi janji itu ternyata hanya tinggal janji dan akhirnya ia menghindar dari tanggung jawab,” tutur UC dengan suara lirih.

Luka batin itu semakin dalam saat dirinya mengandung. UC mengaku diminta pulang ke kampung halamannya untuk melahirkan, sesuatu yang ia rasakan sebagai upaya menjauhkan dirinya dari kehidupan pria tersebut.

“Saat saya hamil, saya disuruh pulang dan melahirkan di kampung sendiri. Saya merasa seperti ingin disembunyikan,” katanya.

Meski demikian, setelah anak lahir, HM disebut sempat menanyakan jenis kelamin bayi tersebut.

“Dia bertanya, ‘Anakku laki-laki atau perempuan?’ Saya jawab laki-laki. Ketika anak berusia sekitar satu tahun, dia juga pernah membelikan mobil-mobilan,” ungkap UC.

Komunikasi terakhir, lanjutnya, terjadi ketika HM kembali menanyakan perkembangan sang anak.

“Dia pernah bertanya, ‘Sudah besar anakku? Coba videokan.’ Saya jawab, ‘Iya, sudah besar mi kasihan.’ Tapi setelah itu dia kembali menghilang dan tidak pernah lagi bertanggung jawab, baik secara moril maupun materiil,” jelasnya.

Kini, setiap kali MAL melihat teman-temannya datang ke sekolah bersama ayah mereka, ia kembali bertanya tentang sosok yang tak pernah hadir dalam hidupnya.

Sang ibu hanya bisa memeluk anaknya sambil menyembunyikan kesedihan yang selama ini dipendam.

Keluarga UC berharap ada perhatian dan ketegasan dari Pemerintah Kabupaten Buton Selatan, khususnya BKPSDM dan Inspektorat.

Mereka menilai dugaan penelantaran anak dan pemberian janji palsu oleh seorang abdi negara merupakan persoalan serius yang perlu ditindaklanjuti.

“Kami hanya ingin ada tanggung jawab dan kejelasan untuk masa depan anak ini,” ujar salah seorang anggota keluarga.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya memperoleh tanggapan resmi dari pihak BKPSDM Kabupaten Buton Selatan, Inspektorat Kabupaten Buton Selatan, serta oknum ASN berinisial HM terkait tudingan tersebut.

Laporan: Salmudin.H.