BUTON UTARA – Sibersultra.com

Beredarnya foto plafon ambruk di salah satu ruangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buton Utara (Butur), kembali memicu perhatian luas masyarakat di media sosial.

Dalam gambar yang beredar, terlihat rangka plafon menggantung dan sebagian material penutup plafon roboh sehingga instalasi ducting, kabel, dan konstruksi atap tampak terbuka.

Peristiwa itu langsung memunculkan pertanyaan publik mengenai kualitas pembangunan gedung rumah sakit, standar pekerjaan konstruksi, serta pengawasan proyek yang dilakukan pihak terkait.

Masyarakat menilai fasilitas kesehatan semestinya menjadi bangunan yang paling aman karena digunakan untuk pelayanan pasien.

“Kalau plafon rumah sakit bisa ambruk, masyarakat wajar khawatir dengan keamanan ruangan lainnya,” tulis salah satu warganet dalam unggahan yang beredar.

Sorotan publik juga mengarah pada manajemen pemeliharaan gedung. Warga mempertanyakan apakah kerusakan tersebut murni disebabkan faktor teknis, kelalaian perawatan, atau berkaitan dengan proses pembangunan sebelumnya.

Sejumlah warga meminta Pemerintah Kabupaten Buton Utara dan manajemen RSUD tidak sekedar memberikan penjelasan singkat, tetapi membuka secara transparan kondisi bangunan, lokasi kejadian, waktu kejadian, serta langkah penanganan yang telah dilakukan.

”MTQ

“Jangan tunggu ada korban baru bergerak. Rumah sakit adalah fasilitas vital, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama,” ujar seorang warga di Ereke.

Ambruknya plafon ini kembali mengingatkan publik pada sorotan yang pernah mencuat terhadap pembangunan RSUD Buton Utara Tipe C.

Sebelumnya, pada 10 Mei 2026, muncul informasi dari sumber internal yang menyebut bangunan rumah sakit yang baru dibangun diduga mengalami rembesan air saat hujan turun.

“Menurut informasi dari sumber terpercaya sebagai tenaga pekerja di RSUD Butur Tipe C, rumah sakit yang baru dibangun dan belum diresmikan diduga mengalami kegagalan konstruksi, di mana air hujan merembes dari bagian atas hingga ke lantai dasar,” ungkap sumber tersebut.

Informasi mengenai rembesan air itu sempat menjadi perhatian publik karena bangunan rumah sakit masih tergolong baru.

Kini, setelah beredarnya foto plafon ambruk, masyarakat kembali mengaitkan kedua peristiwa tersebut dan meminta penjelasan menyeluruh dari pihak berwenang.

Untuk diketahui, pembangunan RSUD Buton Utara Tipe C menelan anggaran sekitar Rp136 miliar. Besarnya nilai proyek membuat masyarakat menilai kualitas bangunan harus memenuhi standar tinggi, baik dari sisi konstruksi maupun keselamatan.

Publik mempertanyakan bagaimana proses pengawasan proyek dilakukan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan pekerjaan, hingga serah terima bangunan.

Warga juga mendesak agar dilakukan audit teknis independen terhadap seluruh bangunan rumah sakit untuk memastikan tidak ada bagian lain yang berpotensi membahayakan pasien, tenaga kesehatan, maupun pengunjung.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan fasilitas publik tidak cukup hanya selesai secara administratif.

Kualitas pekerjaan, pengawasan lapangan, dan pemeliharaan berkala harus benar-benar dijalankan agar anggaran besar yang bersumber dari uang rakyat tidak berujung pada bangunan yang justru menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Buton Utara mengenai penyebab ambruknya plafon maupun dampak yang ditimbulkan. Redaksi masih berupaya mengonfirmasi Direktur RSUD dan instansi teknis terkait.

Laporan: Redaksi.