BUTON SELATAN – Sibersultra.com 

Gelombang protes datang dari forum pemuda, mahasiswa, dan masyarakat etnis Burangasi, Kecamatan Lapandewa, Kabupaten Buton Selatan.

Mereka mempersoalkan hasil rapat pembentukan panitia Festival Budaya yang digelar pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Keputusan yang meniadakan kegiatan malam dalam rangkaian tradisi Ma’acia dinilai berpotensi mengancam kelestarian adat sekaligus mengikis kebiasaan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Burangasi.

Pemuda dan mahasiswa Burangasi, Jumadun dan Eko Saputra, menegaskan penghapusan acara malam dikhawatirkan dapat memutus mata rantai tradisi yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Jumadun bahkan menduga adanya intervensi dari pihak luar non-etnis Burangasi yang berupaya mengikis identitas asli perayaan Ma’acia.

“Kami duga adanya intervensi dari pihak luar non-etnis Burangasi,” katanya, Minggu (16/8/2026).

Kekhawatiran serupa disampaikan Mahmud Hastu, perwakilan pemuda dan mahasiswa Burangasi.

”MTQ

Menurutnya, kegiatan malam memiliki peran penting sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus menjaga jati diri budaya mereka.

Berbagai perlombaan dan pementasan tarian adat khas Burangasi selama rangkaian Ma’acia, kata dia, menjadi bagian penting dalam memperkenalkan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.

“Jika kegiatan malam ini ditiadakan, ciri khas dan identitas budaya kita akan hilang. Generasi penerus tidak akan lagi mengenali warisan leluhurnya sendiri,” ujar Mahmud.

Kekecewaan juga disuarakan pemuda Burangasi lainnya, Apriandi. Ia mempertanyakan alasan penghapusan rangkaian kegiatan yang selama ini telah melekat dengan Ma’acia sebagai pesta rakyat.

Menurutnya, Ma’acia bukan sekedar sebuah acara seremonial, tetapi juga menjadi ruang berkumpul masyarakat yang diisi dengan tarian tradisional, olahraga, serta berbagai kegiatan rakyat selama sepekan penuh.

Penolakan tersebut, lanjutnya, tidak hanya datang dari kalangan pemuda dan mahasiswa.

Dukungan juga disebut datang dari masyarakat Burangasi yang khawatir format baru Festival Budaya justru perlahan menggeser esensi Ma’acia.

Warga mengkhawatirkan perubahan tersebut dapat menjadi awal hilangnya identitas asli Ma’acia pada tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, tokoh pemuda Burangasi, Sambar Baruga, menyayangkan apabila agenda Festival Budaya dipaksakan menggantikan rangkaian kegiatan Ma’acia yang selama ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat.

Baginya, kemeriahan tujuh hari tujuh malam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian menuju acara puncak Ma’acia.

Atas dasar kekhawatiran terhadap keberlangsungan warisan leluhur tersebut, sejumlah elemen pemuda kini menyuarakan gerakan “Savemaacia” sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan yang mereka nilai tidak berpihak pada kelestarian budaya lokal.

Mereka berharap seluruh pihak dapat duduk bersama dan mencari jalan keluar agar pelaksanaan Festival Budaya tetap berjalan tanpa menghilangkan akar tradisi Ma’acia yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Laporan: Salmudin.H