KONAWE – SIBERSULTRA.com

Kasus dugaan perundungan di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) 1 Konawe yang menimpa siswi berinisial AMZ (Akhila) menjadi perhatian publik. Korban dilaporkan mengalami cedera di bagian tulang ekor hingga nyaris lumpuh.

Namun, pihak sekolah menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan tindakan bullying, melainkan kecelakaan saat siswa sedang bercanda sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Kepala MTSN 1 Konawe, Nyuheri Slamet, menjelaskan bahwa insiden itu terjadi pada pagi hari sebelum jam pelajaran pertama.

“Saya mendapat kabar dari orang tua Akhila sepulang sekolah. Ibunya bilang anaknya jatuh dan tak bisa berdiri. Setelah kami telusuri, ternyata anak-anak hanya bermain,” ujar Nyuheri, Kamis (16/10/2025).

Berdasarkan keterangan sejumlah siswa, kejadian bermula ketika Akhila bersama dua temannya saling bercanda dengan menarik kursi dan tangan satu sama lain hingga akhirnya Akhila terjatuh.

“Tidak ada yang melihat langsung proses jatuhnya. Semua berlangsung cepat,” tambahnya.

Wali Kelas VII-3, Wahyudi Daud, membenarkan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.00 Wita, sebelum kegiatan belajar dimulai.

”MTQ

“Dari informasi keluarga, Akhila jatuh karena kursinya ditarik oleh temannya. Kami segera menindaklanjuti laporan keluarga dan meminta klarifikasi melalui grup komunikasi guru, siswa, dan orang tua,” jelas Wahyudi.

Namun hasil penelusuran internal sekolah menunjukkan tidak ada satu pun siswa yang menyaksikan langsung momen jatuhnya korban.

Kursi yang disebut-sebut ditarik pun tidak ditemukan di lokasi kejadian.

“Kami sama sekali tidak seperti yang diberitakan. Justru kami selalu menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua dan anak-anak. Kami peduli terhadap seluruh siswa,” tegasnya.

Ia berharap masyarakat dapat menyikapi kejadian ini secara bijak.

“Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bersama agar setiap persoalan disikapi dengan tenang dan tidak langsung menyalahkan pihak tertentu sebelum fakta sebenarnya terungkap,” ujar Wahyudi.

Isu makin berkembang setelah muncul kabar bahwa rekaman CCTV kelas mengalami gangguan teknis.

Menurut teknisi sekolah, kualitas gambar rekaman menurun bertahap hingga akhirnya tidak menampilkan momen kejadian dengan jelas.

“Gambarnya rusak perlahan, berubah dari berwarna menjadi hitam putih, sampai akhirnya tidak bisa merekam peristiwa itu,” ungkap seorang staf teknis.

Kasus ini mencuat setelah sejumlah media lokal memberitakan dugaan bullying di MTSN 1 Konawe dengan narasi soal CCTV yang disebut “mendadak buta”. Akibatnya, pihak sekolah dipanggil ke Polres Konawe untuk memberikan klarifikasi.

Kepala MTSN 1 Konawe menegaskan pihaknya terbuka dan siap bekerja sama dengan aparat penegak hukum.

“Kami tidak menutupi apa pun. Ini murni kecelakaan, bukan bullying,” tegas Nyuheri.

Ia menambahkan, komunikasi dengan keluarga korban masih berjalan baik. Pihak sekolah bahkan telah menjenguk korban bersama Kementerian Agama Kabupaten Konawe.

“Kami prihatin dan berharap Akhila segera pulih. Kami juga terus memantau perkembangannya,” kata Nyuheri.

Sementara itu, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi. Seorang petugas di Mapolres Konawe menyebutkan bahwa penyelidikan masih berlangsung.

“Belum bisa kami simpulkan sekarang. Nanti pimpinan yang akan memberikan keterangan resmi,” ujarnya singkat.

Hingga kini, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan. Publik menantikan hasil pemeriksaan untuk memastikan apakah kejadian di MTSN 1 Konawe itu murni kecelakaan atau mengandung unsur perundungan.

Laporan: Redaksi

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook