Polemik Gapura Benteng Lipu Kulisusu, Eks Ketua IMDK Butur Ajak Seluruh Elemen Peduli dan Rawat Budaya
BUTON UTARA – Sibersultra.com
Benteng Lipu Kulisusu merupakan salah satu ikon sejarah penting Kabupaten Buton Utara. Keberadaannya tidak hanya sebagai simbol semata, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan sejarah yang harus dijaga serta dilestarikan.
Menanggapi polemik yang muncul akibat kerusakan pada gapura utama Benteng Kulisusu, mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Daerah Kulisusu (IMDK) Butur, Arjun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap warisan budaya daerah.
“Sebagai masyarakat, terutama generasi muda, kesadaran terhadap budaya adalah bentuk pertahanan kita atas sejarah itu sendiri. Polemik yang terjadi hari ini adalah pekerjaan rumah bagi kita semua,” ungkap Arjun, Jumat (4/7/2025).
Menurutnya, kerusakan parah pada gapura utama menunjukkan minimnya perhatian terhadap peninggalan sejarah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan kerusakan akan semakin parah dan berujung pada hilangnya salah satu simbol penting daerah.
Berdasarkan video yang beredar di media sosial, kerusakan terlihat sangat jelas, mulai dari atap yang nyaris roboh hingga struktur bangunan yang mulai lapuk.
“Apalagi dengan kondisi cuaca hujan dan angin belakangan ini, kerusakan bisa semakin parah,” ujarnya.
Arjun menyebut bahwa penyebaran video tersebut menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Ia menilai kondisi bangunan yang rusak bisa memunculkan persepsi ketidakpedulian pemerintah maupun masyarakat terhadap sejarah daerah.
“Video itu membuat kita khawatir. Jika tidak segera ditindaklanjuti, bisa menimbulkan anggapan bahwa kita abai terhadap sejarah kita sendiri. Padahal, sejarah dan budaya adalah kekuatan yang bisa kita perkenalkan ke dunia luar,” tambahnya.
Ia juga menyinggung pernyataan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, yang menyebut bahwa sejarah Buton Utara sangat kaya namun belum cukup dipromosikan. Hal ini, kata Arjun, menjadi tugas besar bersama.
“Pak Hugua bilang Butur punya sejarah luar biasa, tapi belum maksimal promosinya. Tapi bagaimana mau promosi kalau kondisinya rusak? Oleh karena itu, pemerintah harus bertindak sebagai acuan bagi masyarakat untuk mulai sadar dan peduli budaya,” tegasnya.
Arjun berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki gapura Benteng Kulisusu, sebab keberadaan bangunan tersebut bukan hanya sebagai simbol sejarah, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya yang harus dijaga.
“Baik Dinas Kebudayaan, komunitas pecinta budaya, maupun masyarakat umum harus ambil peran. Kita harus bergerak bersama untuk merehabilitasi Benteng Kulisusu,” harapnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti peran mahasiswa Butur, khususnya asal Kulisusu yang tengah menempuh pendidikan di luar daerah.
Menurutnya, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk ikut terlibat mencari solusi atas persoalan yang terjadi.
“Mahasiswa asal Kulisusu cukup banyak yang kuliah di luar daerah. Saya percaya mereka tahu langkah apa yang bisa dilakukan. Mahasiswa harus ambil sikap, bisa lewat penyampaian ke pemerintah atau mengajak masyarakat berpartisipasi,” katanya.
Terakhir, Arjun mengajak seluruh masyarakat untuk terus menyuarakan persoalan budaya di Buton Utara agar menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Kita sebagai masyarakat harus konsisten menyuarakan polemik ini, terutama soal budaya. Gunakan media sosial, lakukan tindakan nyata, saya yakin jika terus disuarakan, pemda akan segera bertindak,” pungkasnya.
Laporan: Redaksi.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook