BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com

Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Utara menggelar kegiatan Audit Maternal Perinatal Surveilans Respon (AMPSR) di ruang rapat Dinas Kesehatan Buton Utara (Butur), Jumat (24/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Isfar Alsakti, Subkoordinator Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Buton Utara, bersama tim kerja bidang kesehatan keluarga, serta melibatkan tim pengkaji dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Buton Utara), yaitu dr. Herliastuti, Sp.OG., M.Kes dan dr. Waode Ilfah Rahma Yufitrah.

AMPSR merupakan suatu proses penelaahan bersama terhadap kasus kesakitan dan kematian ibu dan perinatal, dengan menggunakan berbagai informasi dan pengalaman dari pihak terkait.

Tujuannya untuk memperoleh masukan yang relevan dalam merumuskan intervensi terbaik guna meningkatkan kualitas layanan KIA di wilayah tersebut.

Kegiatan ini merupakan pertemuan AMPSR triwulan ketiga tahun 2025, di mana dibahas dua kasus kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Buton Utara.

Setiap kasus dikaji secara komprehensif, mulai dari kondisi medis, proses penanganan, hingga faktor sosial dan sistem yang memengaruhi terjadinya kematian.

Dalam pemaparannya, Isfar Alsakti menegaskan bahwa AMPSR bukan hanya forum evaluasi kasus, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan ibu dan bayi.

”MTQ

“Melalui AMPSR, kita belajar dari setiap kasus yang terjadi. Kita identifikasi akar masalahnya, lalu bersama-sama menentukan solusi yang bisa diterapkan. Tujuannya jelas agar tidak ada lagi kematian ibu dan bayi yang dapat dicegah,” ujar Isfar.

Ia juga menekankan pentingnya pemantauan kesehatan ibu sejak awal kehamilan, melalui pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan.

Pemeriksaan sejak trimester pertama hingga ketiga sangat penting untuk mendeteksi faktor risiko secara dini, sehingga dapat segera dilakukan intervensi yang tepat.

“Kami mendorong seluruh tenaga kesehatan, khususnya bidan desa dan tenaga Puskesmas, untuk aktif melakukan kunjungan rumah dan memantau kondisi ibu hamil. Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah komplikasi,” tambahnya.

Sementara itu, dr. Herliastuti, Sp.OG., M.Kes, dari IDI Buton Utara, menjelaskan bahwa peningkatan Angka Kematian Ibu seringkali disebabkan oleh keterlambatan dalam tiga hal.

Diantaranya pengambilan keputusan untuk rujukan, akses menuju fasilitas kesehatan, dan penanganan di fasilitas kesehatan itu sendiri.

“Ketiga keterlambatan ini harus menjadi perhatian bersama. Selain kesiapan tenaga medis, dukungan keluarga dan masyarakat juga sangat penting agar ibu hamil segera mendapatkan pertolongan tepat waktu,” tutur dr. Herliastuti.

Sementara itu, dr. Waode Ilfah Rahma Yufitrah menambahkan bahwa kegiatan AMPSR memberikan gambaran nyata mengenai kondisi di lapangan dan menjadi dasar ilmiah dalam merumuskan kebijakan kesehatan daerah.

“Hasil audit ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, baik dari sisi sumber daya manusia, sarana-prasarana, maupun sistem rujukan yang efektif,” ujarnya.

Dari hasil pembahasan dan rekomendasi AMPSR kali ini, terdapat beberapa poin tindak lanjut penting yang akan segera dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Buton Utara

Diantaranya Penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan komunikasi efektif dan On The Job Training (OJT) kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Kemudian optimalisasi sistem rujukan antar fasilitas kesehatan agar kasus risiko tinggi dapat segera ditangani dengan tepat.

Selanjutnya, Peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana di fasilitas kesehatan, termasuk peralatan penunjang pelayanan maternal dan neonatal.

Dan peningkatan edukasi dan pemberdayaan masyarakat, terutama melalui kader dan keluarga, tentang tanda bahaya kehamilan dan persalinan.

Serta pemantauan dan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan AMPSR dan tindak lanjutnya untuk memastikan rekomendasi benar-benar diterapkan di lapangan.

Melalui pelaksanaan kegiatan AMPSR secara rutin, Dinas Kesehatan Buton Utara menegaskan komitmennya untuk menekan angka kematian ibu dan bayi melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis data.

“Kami berharap hasil dari kegiatan ini menjadi acuan bagi seluruh tenaga kesehatan dan stakeholder dalam memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak. Keselamatan ibu dan bayi adalah prioritas bersama,” tutup Isfar Alsakti.

Laporan: Redaksi

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook