KENDARI – SIBERSULTRA.com

Kegiatan penanaman mangrove yang digelar mahasiswa Magister Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo di kawasan Bungkutoko pada Jumat (15/5/2026).

Awalnya diprediksi berlangsung khidmat, penuh nuansa akademik, sekaligus membawa pesan kuat tentang pelestarian lingkungan pesisir.

Namun suasana berubah menjadi penuh gelak tawa sejak kehadiran AlKasran, sosok perencana dari RSUD Bahteramas, yang tampil dengan outfit paling mencuri perhatian sepanjang kegiatan tanam mangrove tersebut.

Saat sebagian besar peserta hadir dengan pakaian santai seperti kaos lapangan, topi seadanya, dan sandal, AlKasran justru datang dengan busana tertutup rapat dari kepala hingga kaki.

Penampilannya yang sangat total membuat sejumlah warga dan peserta sempat berkelakar, mempertanyakan apakah ia datang untuk menanam mangrove atau justru hendak berburu madu hutan.

Beberapa mahasiswa bahkan mengaku sempat menoleh ke sekitar lokasi, seolah mencari sarang lebah, karena penampilan AlKasran dinilai terlalu meyakinkan.

Dengan pelindung kepala lengkap dan langkah hati-hati menembus lumpur pesisir, ia sontak menjadi pusat perhatian di tengah kegiatan yang berlangsung di area berlumpur itu.

”MTQ

Salah satu peserta dengan nada bercanda mengatakan, “Kalau ada lebah lewat, pasti langsung hormat.”

Meski penampilannya mengundang tawa, AlKasran justru menunjukkan semangat yang tidak main-main.

Saat peserta lain mulai kewalahan menghadapi terik matahari, lumpur tebal, serta aroma khas pesisir yang cukup menyengat, ia tetap aktif bergerak membawa bibit mangrove, membantu peserta lain, hingga memberi arahan terkait penataan lokasi tanam.

Keseriusannya bahkan disebut-sebut menyerupai seseorang yang sedang menjalankan misi besar penyelamatan pesisir. Salah seorang mahasiswa mengaku terhibur melihat totalitas tersebut.

“Beliau ini terlalu niat. Kami tanam mangrove untuk lingkungan, beliau seperti sedang menjalankan misi negara,” ujar seorang peserta sambil tertawa.

Di balik suasana santai dan candaan yang mewarnai kegiatan tersebut, tersimpan pesan penting tentang kepedulian terhadap lingkungan.

Aksi nyata menjaga alam ternyata tidak selalu harus tampil formal atau penuh seremoni. Cukup hadir, turun langsung, rela berkotor-kotor di lumpur, dan menunjukkan kepedulian dengan tindakan nyata.

Kegiatan ini pun meninggalkan kesan tersendiri bagi peserta. Bukan hanya karena ribuan bibit mangrove yang ditanam untuk menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga karena sosok AlKasran yang tanpa sadar menjadi ikon tak resmi acara tersebut.

Di saat sebagian orang sibuk menjaga penampilan, AlKasran justru memilih menjaga pesisir meski harus siap dikira pencari madu profesional oleh warga satu kelurahan.

Laporan: Redaksi

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook