Warga Lemo’ea Kompak Tolak Indomaret: Pemuda Nilai Bisa “Matikan” Warung Kecil di Selatan Butur
BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com
Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan gerai Indomaret mulai mencuat dari warga Desa Lemo’ea, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara (Butur).
Sejumlah warga bersama kelompok pemuda setempat menyatakan sikap tegas menolak hadirnya ritel modern tersebut di wilayah mereka.
Penolakan ini disuarakan karena warga menilai kehadiran gerai ritel berjaringan nasional itu berpotensi menggerus usaha kecil milik masyarakat.
Khususnya warung sembako rumahan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga di Desa Lemo’ea dan kawasan selatan Buton Utara.
Salah satu tokoh pemuda Lemo’ea, Jean Arsat, menegaskan bahwa pembangunan Indomaret bukan sekadar persoalan hadirnya toko baru, tetapi menyangkut nasib pedagang kecil yang sudah lama bertahan dengan usaha seadanya.
Menurutnya, masyarakat lokal tidak punya kekuatan modal, sistem distribusi barang, maupun strategi pemasaran seperti perusahaan besar.
Jika ritel modern masuk tanpa kajian sosial yang matang, maka warung-warung kecil milik warga dikhawatirkan akan kalah bersaing dan perlahan tutup.
“Kehadiran Indomaret akan mematikan usaha mikro. Pedagang kecil tidak punya modal, distribusi, dan strategi pemasaran seperti perusahaan besar. Ini bukan sekadar soal dagang, tapi soal keberlangsungan hidup masyarakat Lemo’ea dan umumnya masyarakat bagian selatan,” ujar Jean, Kamis (14/5/2026).
Jean bersama sejumlah warga juga mendesak Pemerintah Daerah Buton Utara serta instansi terkait untuk meninjau ulang seluruh proses perizinan pembangunan gerai tersebut.
Mereka meminta agar izin yang telah dikeluarkan dapat dikaji kembali, bahkan dicabut jika dinilai merugikan masyarakat setempat.
Selain itu, warga menilai pemerintah seharusnya tidak mengambil keputusan sepihak dalam urusan investasi yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Mereka menekankan pentingnya pelibatan warga dalam setiap rencana pembangunan, terutama yang berkaitan dengan ekonomi lokal.
Jean menyebut, jika pemerintah serius ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka yang perlu diperkuat justru usaha kecil warga.
kata dia, bukan memberi ruang dominasi kepada perusahaan besar yang dikhawatirkan hanya akan mengambil pasar masyarakat kecil.
“Pemerintah mestinya lebih fokus pada program pemberdayaan ekonomi lokal. Bantu warung kecil berkembang, bantu UMKM naik kelas, bukan malah membuka jalan bagi korporasi besar yang bisa menguasai pasar,” tegasnya.
Penolakan warga Lemo’ea, kata dia, bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman atau menolak kemajuan daerah.
Namun, masyarakat ingin pembangunan yang hadir benar-benar membawa manfaat merata, bukan justru menyingkirkan pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa.
Warga berharap pemerintah tidak hanya melihat investasi dari sisi pemasukan daerah, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi jangka panjang terhadap masyarakat bawah.
“Kalau kemajuan hanya menguntungkan perusahaan besar dan rakyat kecil kehilangan sumber penghidupan, itu bukan kemajuan namanya. Kami ingin daerah berkembang, tapi jangan sampai rakyat kecil yang dikorbankan,” tutup Jean.
Laporan: Redaksi.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook