Di Balik Berhentinya PT WIN: Pekerja Kehilangan Gaji, Pedagang Kehilangan Pembeli
KONAWE SELATAN – Sibersultra.com
Bagi sebagian orang, berhentinya aktivitas sebuah perusahaan mungkin hanya terlihat sebagai terhentinya kegiatan produksi.
Namun di Torobulu, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), dampaknya terasa jauh lebih panjang. Ia masuk ke kios-kios kecil, warung, pasar, usaha katering hingga dapur keluarga.
Bukan hanya pekerja yang kehilangan penghasilan. Pedagang dan pelaku usaha kecil yang selama ini ikut menikmati perputaran ekonomi dari aktivitas perusahaan juga mengaku harus menghadapi kondisi yang berbeda setelah aktivitas PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) berhenti.
Salah satunya Hapzah, warga Wonuakongga, Kecamatan Laeya, yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari usaha kios, kue dan katering di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya.
Ia mengaku perubahan paling terasa terjadi pada omzet usaha yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarganya.
Sebelum aktivitas PT WIN berhenti, penjualan kue miliknya bisa mencapai omzet sekitar Rp800 ribu per hari. Sementara usaha katering bahkan mampu menghasilkan sekitar Rp1,5 juta sehari. Kini, angka tersebut tinggal cerita.
“Dampaknya sangat terasa. Dulu dari usaha kue bisa sampai Rp800 ribu sehari, katering sekitar Rp1,5 juta. Setelah PT WIN berhenti, untuk mendapatkan Rp300 ribu sehari saja sudah susah. Katering juga kadang ada, kadang tidak,” ujar Hapzah kepada media ini, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, aktivitas perusahaan selama ini menciptakan mata rantai ekonomi yang panjang.
Karyawan berbelanja, pedagang mendapatkan pembeli, sementara kegiatan perusahaan juga membuka peluang pesanan makanan bagi pelaku usaha rumahan.
“Kalau ada acara atau kegiatan, pihak perusahaan biasanya membeli kue-kue di kios. Istri-istri karyawan juga setiap hari belanja, baik kue maupun nasi,” katanya.
Dampak tersebut, lanjut Hapzah, turut dirasakan pedagang sayur, penjual asam, pedagang kue hingga pedagang kaki lima di Pasar Desa Torobulu.
“Dulu setelah selesai jualan, hasilnya lumayan untuk membeli ikan dan beras. Sekarang hasil jualan hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Untuk kebutuhan anak sekolah saja sudah terasa berat,” tuturnya.
Menurut Hapzah, sepinya aktivitas ekonomi juga membuat pedagang harus lebih keras mempertahankan usaha. Perputaran uang yang sebelumnya terasa setiap hari kini jauh berkurang.
Ia juga mengaku mengetahui sejumlah bentuk dukungan yang pernah diberikan PT WIN kepada masyarakat, di antaranya bantuan pembangunan jembatan dan masjid, dukungan kepada sekolah, bantuan kebutuhan pokok seperti beras, minyak dan mi instan, hingga bantuan air bersih ke sejumlah desa.
Ia juga menyebut adanya bantuan beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu, meskipun menurutnya bantuan tersebut tidak diberikan secara rutin.
“Bukan sering, tapi ada,” katanya.
Bagi Hapzah, berbagai bantuan tersebut menjadi bagian dari hubungan sosial antara perusahaan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Karena itu, ia berharap apabila seluruh persyaratan dan perizinan telah terpenuhi, aktivitas perusahaan dapat kembali berjalan.
“Saya dan teman-teman pedagang berharap PT WIN bisa mendapatkan izin untuk beroperasi lagi. Dengan adanya perusahaan, bisa terjalin kerja sama lintas sektor dengan pemerintah dalam pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Cerita kehilangan penghasilan juga datang dari Afdal, warga Wawowonua, Kecamatan Palangga Selatan, yang sebelumnya bekerja sebagai pengemudi dump truck (DT) di PT WIN.
Ia mulai bekerja pada 6 Juni 2024 dan terakhir bekerja pada 10 Agustus 2026. Bagi Afdal, pekerjaan tersebut bukan hanya soal mencari nafkah.
Bekerja di PT WIN juga membuatnya tetap dekat dengan keluarga dan orang tua karena lokasi pekerjaan berada di kampungnya sendiri.
“Saya memilih bekerja di PT WIN karena dekat dengan keluarga. Kita masih bisa melihat orang tua dan bertemu dengan teman-teman, dan utamanya di kampung saya sendiri, tempat PT WIN beroperasi,” ujar Afdal kepada media ini, Senin (17/8/2026).
Selama bekerja, Afdal mengaku menerima penghasilan sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta per bulan. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli kendaraan dan sebagian ditabung. Ia juga mendapatkan fasilitas BPJS Ketenagakerjaan.
“Ketika PT WIN masih berjalan, saya masih bisa membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Namun setelah aktivitas perusahaan berhenti, kondisi ekonominya berubah drastis.
“Sekarang kondisi ekonomi saya sangat minim sekali, karena sejak terhentinya PT WIN saya sudah tidak memiliki penghasilan setiap bulan,” ujarnya.
Saat ini, Afdal mengaku belum memiliki pekerjaan maupun usaha lain yang dapat menggantikan penghasilan sebelumnya.
Baginya, kehilangan pekerjaan bukan hanya berarti kehilangan gaji bulanan, tetapi juga menghadirkan kecemasan terhadap masa depan ekonomi keluarga.
“Hilangnya pendapatan utama bagi karyawan dan rasa kecemasan muncul akibat ketidakpastian masa depan finansial,” katanya.
Ia bahkan mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga karena tidak lagi memiliki pemasukan tetap.
“Sudah sangat kesulitan, sudah tidak ada lagi penghasilan setiap bulan,” tuturnya.
Kondisi serupa, kata Afdal, juga dialami sejumlah mantan rekan kerjanya. Sebagian dari mereka bahkan memilih meninggalkan kampung halaman dan keluarga untuk mencari pekerjaan di daerah lain.
“Teman-teman saya sudah ada yang rela meninggalkan keluarganya, merantau hanya untuk menghidupi keluarganya,” katanya.
Afdal menilai aktivitas PT WIN selama ini memiliki pengaruh cukup besar terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Ia memperkirakan sekitar 70 persen masyarakat ikut bergantung atau merasakan perputaran ekonomi dari keberadaan perusahaan.
Ketika perusahaan masih beraktivitas, warung dan pedagang yang berjualan pada sore hari, menurutnya, ramai pembeli.
“Warung-warung dan pedagang yang berjualan di sore hari sangat ramai pembeli,” ujarnya mengenang kondisi ketika perusahaan masih beraktivitas.
Yang dirindukannya dari masa tersebut bukan hanya pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga suasana sosial ketika banyak pekerja dari luar daerah datang dan berkumpul di Torobulu.
“Bertemu teman-teman yang datang merantau ke Desa Torobulu,” katanya.
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, Afdal berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap masyarakat yang terdampak berhentinya aktivitas perusahaan.
“Harapan saya untuk pemerintah daerah, tolong buka matanya lebar-lebar. Begitu banyak perut yang harus menahan lapar karena berhentinya PT WIN,” ujarnya.
Ia mengaku masih berharap dapat kembali bekerja apabila aktivitas perusahaan kembali berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Saya sangat berharap dipekerjakan kembali ketika aktivitas perusahaan kembali normal,” katanya.
Menurutnya, jika PT WIN kembali beroperasi sesuai aturan yang berlaku, aktivitas perusahaan diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Sehingga, kata dia, tidak kembali menimbulkan ketidakpastian bagi pekerja maupun pelaku usaha yang selama ini ikut menggantungkan hidup pada perputaran ekonomi di kawasan tersebut.
“Kalau PT WIN kembali beroperasi, ada beberapa orang yang menutup dan menunda aktivitas PT WIN mohon dihentikan. Karena kalau PT WIN berhenti, kami masyarakat biasa sangat dirugikan,” pungkasnya.
Kisah Torobulu akhirnya bukan sekedar cerita tentang sebuah perusahaan yang berhenti beraktivitas. Di baliknya ada pekerja yang kehilangan gaji bulanan. Ada keluarga yang mulai menghitung ulang kebutuhan beras.
Kemudian, ada mantan karyawan yang memilih merantau. Ada kios yang kehilangan pelanggan dan pedagang yang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pembeli. Ada pula pesanan katering yang tak lagi seramai dulu.
Sebab ketika satu aktivitas ekonomi besar berhenti, dampaknya tidak selalu berhenti di pagar perusahaan. Ia bisa merambat ke warung, pasar, usaha rumahan hingga meja makan keluarga.
Di situlah wajah lain dari berhentinya aktivitas PT WIN terlihat, ketika mesin perusahaan berhenti bergerak, sebagian denyut ekonomi masyarakat di sekitarnya ikut melambat.
Laporan: Asman Ode





