BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com

Dalam rangka melestarikan warisan leluhur sekaligus mempererat silaturahmi dan solidaritas masyarakat, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Buton Utara (Butur), Suhaemi Sudia Afirudin, menghadiri kegiatan Syukuran Pesta Panen “Rampu’a” di Desa Kadacua, Kecamatan Kulisusu, Kamis (9/10/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Suhaemi menyampaikan harapannya agar melalui tradisi syukuran Rampu’a, hasil panen masyarakat semakin melimpah dan senantiasa dijauhkan dari berbagai musibah maupun marabahaya.

“Keberhasilan yang dicapai masyarakat tidak lepas dari kerja keras dan sinergi semua elemen bersama pemerintah daerah. Karena itu, mari kita tidak berhenti bersyukur, sekecil apa pun karunia Tuhan yang diberikan,” ujarnya.

Tradisi Rampu’a diyakini masyarakat setempat sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan yang diberikan melalui hasil bumi.

Bagi masyarakat lokal, tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap alam dan ungkapan syukur atas rezeki yang diterima.

Selain itu, Rampu’a juga dipercaya sebagai sarana perlindungan dari berbagai bencana, seperti wabah penyakit atau gagal panen, sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi antarwarga, baik dari desa setempat maupun masyarakat sekitarnya.

Secara umum, tradisi Perampu’a dilakukan oleh masyarakat pesisir, seperti di wilayah Linsowu, Kulisusu bagian selatan, Banu-Banua Jaya, dan Koepisino di Kecamatan Bonegunu.

”MTQ

Rangkaian kegiatan dimulai dengan ritual doa bersama yang dipimpin oleh imam desa atau tokoh agama.

Usai doa, warga bersama-sama menikmati dan membagikan makanan yang telah disiapkan kepada seluruh tamu yang hadir tanpa terkecuali.

Menariknya, makanan utama dalam tradisi ini adalah Rampu, yaitu olahan tradisional berbahan dasar ubi-ubian, seperti ketela dan singkong.

Bahan-bahan tersebut diparut, dicampur dengan kelapa parut dan bawang merah, lalu diaduk hingga merata.

Setelah itu, adonan dibungkus daun pisang dan dimasak dengan cara dibakar dalam galian tanah berisi bara api, bukan dikukus atau digoreng.

Rampu yang telah matang kemudian disajikan di atas dulang dan dibawa ke lapangan terbuka tempat pelaksanaan perampu’a.

Di lokasi itu, berbagai dulang tersusun rapi sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat.

Tradisi Perampu’a terbuka untuk semua kalangan. Tidak hanya masyarakat Desa Kadacua, namun juga dihadiri oleh tamu undangan dari unsur pemerintah daerah serta warga dari luar desa yang turut merasakan kehangatan dan kebersamaan dalam tradisi adat tersebut.

Laporan: Redaksi.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook