BUTON UTARA — SIBERSULTRA.com

Setiap akhir tahun, masyarakat Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara (Butur), menggelar kegiatan adat Haroano Lipu.

Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas nikmat dan keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT, sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga.

Secara etimologis, kata Haroa berasal dari dua suku kata dalam bahasa Kulisusu, yaitu HA dan ROA.

HA berarti perintah tegas untuk melakukan suatu kegiatan, sedangkan ROA bermakna bersatu atau bersama-sama memeriahkan.

Maka, Haroano Lipu dimaknai sebagai perintah untuk bersatu dan bergotong royong dalam merayakan serta mensyukuri kehidupan bersama.

Kegiatan Haroa telah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Kulisusu dan Buton pada umumnya.

Tradisi ini dilaksanakan di berbagai wilayah, mulai dari Rapano Wita hingga Karuno Wita, serta beberapa kawasan kecil lainnya di Kulisusu.

”MTQ

Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan Haroa mengalami penyesuaian yang positif tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya leluhur.

Kini, Haroano Lipu sering diwarnai dengan pesta rakyat, pesta panen, dan pesta nelayan yang memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat setempat.

Ciri khas acara ini juga tampak pada sajian makanan tradisional yang dihidangkan menggunakan wadah khas bernama Dula.

Acara biasanya diawali dengan doa bersama atau Doa Haroa sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan.

Dalam doa tersebut, masyarakat memohon agar dijauhkan dari marabahaya yang bersumber dari api, air, angin, maupun tanah.

Doa ini juga menjadi wujud harapan agar masyarakat diberi umur panjang, rezeki yang luas, serta ketenteraman hidup.

Orang tua terdahulu meyakini bahwa pada akhir tahun sering muncul kalelei atau wabah penyakit yang dianggap sebagai ujian bagi manusia.

Melalui pelaksanaan Haroa, masyarakat berharap agar terhindar dari berbagai bala dan bencana.

Setelah prosesi Haroa selesai, Lembaga Adat Sara Bharata Kulisusu menggelar musyawarah bersama pemerintah daerah untuk menetapkan pelaksanaan resmi Haroano Lipu setiap tahunnya.

Kata Lipu sendiri berarti wilayah atau negeri Libo atau Lipu Alwali yang dalam bahasa Kulisusu disebut Lipu Poiaha kawasan yang mencakup wilayah Kulisusu di Buton Utara saat ini.

Tradisi ini telah diwariskan oleh para leluhur sejak masa awal berdirinya negeri, jauh sebelum perpindahan pusat kerajaan ke Sarano Wolio.

Para pendiri negeri mewariskan pesan luhur bahwa Lipu ini berdiri di atas Sara: adat dan hukum, yang melahirkan semboyan terkenal “Lipu Tinadeakono Sara” negeri yang ditegakkan di atas adat.

Pesan leluhur ini juga mengandung tanggung jawab moral bagi generasi penerus untuk menjaga adat dan persatuan.

Sebagaimana tersirat dalam ungkapan “Ingkitamo mongurano bowumangusakono”, yang berarti marilah kita teruskan dan pelihara warisan leluhur.

Tradisi Haroano Lipu bukan sekedar seremoni adat, melainkan simbol kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur.

Serta pengingat bahwa kehidupan masyarakat Kulisusu senantiasa berpijak pada nilai-nilai religius dan adat yang luhur.

Untuk diketahui, Haroano Lipu tahun ini diselenggarakan pada Kamis, 6 November 2025, bertepatan dengan 15 Jumadil Awal 1447 Hijriah, bertempat di Baruga Keraton Kulisusu.

Terselenggaranya kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan seluruh elemen masyarakat serta pemerintah daerah.

Pelaksanaan kegiatan ini juga memperlihatkan partisipasi luas dari masyarakat, yang ditandai dengan penyediaan dulang atau dula berisi hidangan khas untuk dinikmati bersama.

Dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga pendidikan dari tingkat SD hingga SMA se-Kecamatan Kulisusu, pemerintah kecamatan, desa, kelurahan, kelompok PKK, hingga kontribusi pribadi dari Kaowoseno Lipu sendiri.

Laporan: Redaksi

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook