KOLAKA – SIBERSULTRA.com

Pelayanan kesehatan di Puskesmas Samaturu menjadi sorotan setelah terjadi dugaan kekosongan obat yang berdampak pada keterlambatan penanganan pasien.

Situasi ini semakin menuai perhatian setelah Kepala Puskesmas Samaturu diduga memblokir nomor wartawan saat dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp terkait persoalan tersebut.

Tidak hanya itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka juga belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi media.

Sikap bungkam kedua pihak membuat keluarga pasien mendesak Bupati Kolaka agar turun tangan menindaklanjuti persoalan tersebut.

“Ini bukan persoalan sepele, ini soal nyawa pasien,” tegas keluarga pasien, Minggu (17/5/2026).

Insiden ini bermula ketika stok obat di Puskesmas Samaturu dilaporkan kosong pada Minggu, 17 Mei 2026. Akibatnya, pasien terpaksa dirujuk ke RS SMS Berjaya untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Setibanya di rumah sakit, dokter yang menangani disebut mempertanyakan lambatnya proses rujukan pasien. Menurut penuturan orang tua pasien, dokter menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi pasien yang sudah dalam keadaan lemah saat tiba di rumah sakit.

”MTQ

“Kenapa lambat sekali dirujuk? Pasien sudah dalam keadaan lemah begini,” ujar dokter kepada keluarga pasien.

Meski kondisi anak mereka mulai membaik, keluarga pasien berharap persoalan ketersediaan obat di puskesmas dapat segera dibenahi agar tidak terulang pada pasien lain.

“Tidak usah diributkan, anak saya juga agak membaik. Cuma kami harap agar obat-obatan di puskesmas bisa disiapkan. Kalau keluarga pasien yang masuk tidak apa-apa kami beli di luar. Tapi kalau keluarga pasien tidak ada uang, gimana jadinya? Padahal BPJS yang kami miliki tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan,” ujar orang tua pasien.

Upaya media untuk meminta klarifikasi kepada Kepala Puskesmas Samaturu, Martha, kembali menemui jalan buntu.

Pesan singkat yang dikirim melalui WhatsApp tidak mendapat respons, dan nomor wartawan diduga telah diblokir.

Hal serupa juga terjadi saat media mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan resmi yang diberikan.

Keluarga pasien menilai kondisi tersebut sebagai bentuk kelalaian serius, terutama karena kekosongan obat terjadi pada hari libur atau tanggal merah, disertai tidak berfungsinya layanan apotek di puskesmas.

Mereka meminta Bupati Kolaka melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala Puskesmas Samaturu maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka.

“Kalau masalah tanggal merah saja obat sudah habis, bagaimana kalau terjadi bencana? Ini soal nyawa, bukan soal administrasi,” kata keluarga pasien.

Kekosongan obat di fasilitas kesehatan tingkat dasar seperti puskesmas dinilai berpotensi mengganggu hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, serta dapat bertentangan dengan standar pelayanan minimal di bidang kesehatan.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak Puskesmas Samaturu maupun Dinas Kesehatan Kolaka terkait penyebab kosongnya stok obat dan minimnya pelayanan apotek saat tanggal merah.

Tim media masih terus berupaya mendapatkan klarifikasi resmi. Perkembangan kasus ini akan disampaikan pada pemberitaan selanjutnya.

Laporan: Redaksi.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook