Harga Beras dan Cabai Meroket di Butur, Pemerintah Janji Segera Turun Tangan
BUTON UTARA – Sibersultra.com
Harga sejumlah kebutuhan pokok kembali mengalami lonjakan signifikan di wilayah Kabupaten Buton Utara (Butur), Sulawesi Tenggara (Sultra).
Komoditas yang paling terdampak adalah beras dan cabai, terutama jenis cabai rawit, cabai keriting, dan cabai besar.
Dari pantauan Sibersultra.com di Pasar Mina-Minanga dan hasil wawancara dengan sejumlah pedagang, diketahui bahwa harga beras mulai merangkak naik dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan ini dipicu oleh menipisnya pasokan dari wilayah selatan, yang selama ini menjadi sumber utama distribusi beras di Butur.
“Stok dari selatan kurang, makanya harga naik terus. Kami harap Bulog cepat menyalurkan beras cadangan agar harga tidak semakin memberatkan masyarakat,” ujar seorang pedagang, Rabu (9/7/2025).
Selain dari wilayah selatan, pasokan beras juga datang dari Kendari. Namun, harga dari suplier Kendari pun ikut naik, sehingga turut mendorong naiknya harga beras di tingkat pedagang lokal.
Tak hanya beras, lonjakan harga juga terjadi pada komoditas cabai, terutama cabai rawit. Para pedagang menyebut curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir membuat banyak tanaman cabai rusak sebelum masa panen.
“Buah cabai banyak yang busuk karena hujan terus. Pasokan dari petani berkurang drastis, jadi harga naik,” ungkap seorang pedagang lainnya.
Kondisi serupa juga dialami komoditas bawang merah. Minimnya pasokan dari daerah penghasil seperti Bima disebabkan oleh gagal panen akibat curah hujan yang tinggi.
“Kami dapat info dari suplier, banyak tanaman bawang membusuk karena hujan terus. Jadi stok menipis dan harga naik,” jelas pedagang pasar.
Situasi ini dikhawatirkan akan terus berlanjut jika tidak ada intervensi dari pemerintah.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan bahan pokok.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Butur, Sadaria, menjelaskan sejumlah faktor yang menjadi penyebab utama melonjaknya harga dua komoditas tersebut.
Menurut Sadaria, kondisi cuaca ekstrem, kerusakan infrastruktur jalan, dan pergeseran pola tanam petani menjadi pemicu utama.
Kata dia, Banyak hal yang menyebabkan kenaikan harga beras. Pertama, curah hujan yang tinggi mengakibatkan banjir di berbagai wilayah. Kedua, kondisi jalan yang rusak membuat distribusi barang terhambat.
Para pedagang yang biasa memasok bahan pangan ke Butur mengalami kesulitan, sehingga pasokan di pasar menurun.
“Sementara itu, daya beli masyarakat tetap tinggi. Ini yang menyebabkan harga beras naik,” jelas Sadaria, Rabu (9/7/2025).
Selain itu, Sadaria menyebutkan bahwa mayoritas petani di Butur saat ini lebih memilih membudidayakan tanaman Nilam ketimbang padi.
“Kondisi lahan pertanian kita saat ini banyak ditanami Nilam, sehingga hanya sebagian kecil petani yang menanam padi. Akibatnya, produksi beras lokal menurun,” ungkapnya.
Sadaria berharap, keputusan pemerintah pusat yang telah membuka kembali distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bisa mengatasi kelangkaan dan harga beras di Butur.
“Selama beberapa bulan terakhir, distribusi beras SPHP dihentikan oleh Badan Pangan Nasional. Namun, Alhamdulillah hari ini blokirnya sudah dibuka. Kita tinggal menunggu pendistribusiannya di pasar dalam waktu dekat,” tambahnya.
Sementara itu, terkait kenaikan harga cabai keriting, Sadaria menyebutkan bahwa komoditas tersebut tidak dibudidayakan di Butur.
“Cabai keriting kita ambil dari luar daerah, sehingga harganya cenderung tinggi,” katanya.
Sadaria menegaskan, pihaknya terus berupaya memberikan edukasi dan motivasi kepada para petani agar tidak meninggalkan tanaman pangan.
“Kami terus memberikan informasi yang positif kepada petani. Meskipun menanam Nilam, jangan lupakan tanaman pangan karena itu kebutuhan pokok masyarakat,” tutupnya.
Adapun Harga Komoditas Saat Ini seperti, Beras premium Rp17.500 kg, Beras medium Rp16.000 kg, Cabai keriting Rp70.000 kg, Cabai besar Rp80.000 kg dan Cabai rawit Rp70.000 kg.
“Dinas ketapang Butur berkomitmen akan terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan dan mengajak masyarakat untuk mendukung penguatan ketahanan pangan lokal, termasuk dengan memperluas budidaya tanaman hortikultura seperti cabai dan bawang,” tutupnya.
Laporan: Redaksi.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook