Aparat Disorot, Kasus Berdarah di Kadatua Tak Kunjung Tuntas
BUTON SELATAN – SIBERSULTRA.com
Keresahan mendalam menyelimuti warga Desa Banabungi Selatan dan Banabungi, Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton Selatan.
Kasus pengeroyokan brutal yang melibatkan senjata tajam jenis samurai dinilai mandek, meski telah menimbulkan dua korban luka serius.
Hingga kini, para terduga pelaku dilaporkan masih bebas berkeliaran tanpa tindakan tegas dari aparat penegak hukum setempat.
Kondisi ini memicu kekecewaan dan rasa tidak aman di tengah masyarakat.
Peristiwa berdarah tersebut bermula ketika seorang warga menjadi sasaran pengeroyokan oleh sekelompok orang.
Korban mengalami luka parah di bagian kepala akibat sabetan samurai, yang menyebabkan pendarahan hebat dan mengharuskannya menjalani 13 jahitan.
Korban kedua, seorang purnawirawan, juga mengalami luka fisik serius. Ia dilaporkan kehilangan gigi akibat hantaman benda tumpul dalam insiden tersebut.
Kekecewaan warga semakin memuncak lantaran laporan yang telah disampaikan ke Polsek Kadatua dinilai tidak mendapat respons yang memadai.
Warga menyebut para pelaku masih bebas beraktivitas seolah tidak terjadi apa-apa.
“Laporan sudah masuk, tapi sampai sekarang pelaku masih bisa bebas berkeliaran,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (2/5/2026).
Situasi kian memanas setelah salah satu terduga pelaku diduga melakukan provokasi melalui siaran langsung di media sosial TikTok.
Dalam video yang beredar, pelaku terlihat mengintimidasi serta melontarkan hinaan terhadap warga Banabungi Selatan dan Banabungi.
Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap hukum dan masyarakat, sekaligus memicu kemarahan publik karena dilakukan secara terbuka di ruang digital.
Warga pun mendesak Polsek Kadatua untuk segera menangkap para pelaku tanpa pandang bulu.
Mereka juga meminta Polres Baubau turun tangan melakukan supervisi, mengingat adanya dugaan pembiaran dalam penanganan kasus ini.
Selain itu, masyarakat menuntut tindakan tegas terhadap pelaku provokasi di media sosial yang dianggap telah mencemarkan nama baik warga.
Pemuda Pemerhati Kadatua turut angkat bicara. Mereka menyoroti menumpuknya kasus kriminal di wilayah tersebut.
Mulai dari dugaan pencabulan yang berujung pembunuhan, kasus bunuh diri seorang gadis di Desa Owemasi, hingga insiden pembacokan yang terjadi pada 14 April 2026.
“Kami menilai Polsek Kadatua lamban dan tidak mampu mengusut tuntas berbagai kasus. Ini membuat masyarakat merasa tidak aman, apalagi pelaku pembacokan masih berkeliaran hingga kini,” tegas perwakilan Pemuda Pemerhati Kadatua.
Mereka juga mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran Polsek Kadatua, termasuk Kapolsek dan Bhabinkamtibmas, bahkan mengusulkan mutasi sebagai bentuk perbaikan kinerja.
Ironisnya, upaya pencarian pelaku kini justru melibatkan tim dari Polres Baubau yang dipimpin langsung oleh Kapolres sejak 30 April 2026. Namun, hingga berita ini diterbitkan, para pelaku belum berhasil diamankan.
Laporan: Salmudin H.




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook