Bupati Buton Utara Kerahkan Mobil Tangki, Sawah Terdampak Kemarau Diselamatkan Dari Ancaman Gagal Panen
BUTON UTARA – Sibersultra.com
Musim kemarau panjang yang mulai mengancam lahan pertanian di Kabupaten Buton Utara (Butur) mendapat respons cepat dari pemerintah daerah.
Bupati Buton Utara, Afirudin Mathara, SH., MH., turun langsung ke areal persawahan di Desa Soloy Agung, Kecamatan Kulisusu Barat, Sabtu (8/8/2026).
Hal ini dilakukan guna untuk memastikan penyaluran bantuan air bagi petani yang lahannya mulai mengalami kekeringan.
Di tengah hamparan sawah yang debit airnya terus menurun, Bupati didampingi Kepala Dinas PUPR Butur La Ode Husima, tim Bidang Sumber Daya Air, Penjabat Kepala Desa Soloy Agung, para penyuluh pertanian, serta anggota kelompok tani setempat meninjau langsung kondisi lahan terdampak.
Mobil tangki air dikerahkan untuk menyuplai kebutuhan air persawahan agar tanaman padi tetap dapat bertahan selama musim kemarau.
Langkah darurat ini dilakukan melalui kerja sama dengan Satgas Kekeringan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari sebagai upaya menekan risiko gagal panen dan menjaga ketahanan pangan daerah.
Selain itu, Bupati juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan pada puncak musim kemarau panjang dan dampak El Nino di bulan Agustus hingga September 2026.
Berdasarkan data sementara yang disampaikan Kepala Dinas PUPR Butur, luas sawah terdampak kekeringan telah mencapai 117 hektar.
Rinciannya, 17 hektar di Desa Lahumoko, 50 hektar di Buranga (Desa Waode Angkalo), dan 50 hektar di Lambale (Desa Soloy Agung).
“Setelah sejumlah areal sawah mengalami penurunan debit air akibat musim kemarau, Pemerintah Daerah Buton Utara juga meminta bantuan BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara untuk dapat menambahkan armada mobil tangki,” ungkapnya.
Menurutnya, jumlah tangki air yang di drop akan dilakukan secara terus menerus selama musim kemarau, bersama dinas terkait akan terus memastikan pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga sehingga tanaman padi petani terhindar dari risiko gagal panen akibat kekeringan.
Selanjutnya, pengairan sawah di desa Soloy Agung akan memanfaatkan sumber air terdekat, dengan jarak sekitar 300 meter dari pinggir sawah, dengan memanfaatkan sumur JIAT dan air dari saluran irigasi primer bendungan soloy agung.
Laporan: Redaksi.






