BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com

Keluhan terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Bonegunu, Kabupaten Buton Utara (Butur), ramai diperbincangkan setelah seorang pengguna Facebook bernama Rusni membagikan pengalamannya saat membawa bayi berusia 2 bulan untuk mendapatkan perawatan medis.

Dalam unggahan tersebut, Rusni menceritakan kronologi kejadian yang dialami keluarganya saat membawa bayi yang mengalami diare berat ke Puskesmas Bonegunu pada tengah malam.

Bayi tersebut diketahui sudah buang air besar berulang kali sejak sore hingga malam hari, sehingga keluarga memutuskan mencari penanganan medis segera.

Setibanya di puskesmas sekitar pukul 00.00 Wita, pasien disebut hanya mendapatkan penanganan awal berupa pemberian obat-obatan dan anjuran konsumsi oralit.

Namun, hingga pagi hari kondisi bayi tidak kunjung membaik, bahkan frekuensi buang air besar meningkat drastis.

Rusni mengungkapkan kekhawatirannya saat melihat kondisi bayi yang mulai lemas. Ia mengaku sempat meminta tindakan lanjutan seperti pemasangan infus untuk mencegah dehidrasi.

Namun petugas yang berjaga saat itu disebutkan menunggu tenaga medis lain yang baru akan datang pada pagi hari.

”MTQ

“Pasien dalam kondisi darurat, tapi diminta menunggu. Ini yang membuat kami panik dan kecewa,” tulis Rusni dalam unggahannya.

Upaya pemasangan infus disebut telah dilakukan beberapa kali, namun tidak berhasil.

Hingga akhirnya dokter datang sekitar pukul 09.00 Wita dan kembali mencoba melakukan tindakan medis, tetapi kondisi bayi yang diduga sudah mengalami dehidrasi membuat proses tersebut sulit dilakukan.

Keluarga pasien kemudian menerima rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buton Utara.

Namun, dalam unggahan tersebut juga disebutkan bahwa ambulans puskesmas tidak dapat digunakan karena mengalami kerusakan, sehingga pasien harus dibawa menggunakan kendaraan pribadi.

Rusni menilai penanganan di Puskesmas Bonegunu kurang sigap dalam menghadapi kondisi darurat.

Ia berharap adanya evaluasi dan pembenahan, terutama dalam hal kesiapan tenaga medis serta fasilitas penunjang.

“Kalau memang kondisi darurat, seharusnya ditangani terlebih dahulu. Jangan sampai keterlambatan justru membahayakan pasien,” tulisnya

Setibanya di RSUD Buton Utara, bayi tersebut akhirnya mendapatkan penanganan intensif. Rusni mengapresiasi pelayanan pihak rumah sakit yang dinilai cepat dan sigap.

Setelah menjalani perawatan selama empat hari, kondisi bayi dilaporkan membaik dan diperbolehkan pulang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Puskesmas Bonegunu terkait keluhan yang beredar di media sosial tersebut.

Menanggapi kejadian ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Buton Utara didesak untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan kesehatan, khususnya di tingkat puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat.

Keterbatasan tenaga medis saat kondisi darurat, lambannya penanganan pasien, serta tidak berfungsinya ambulans menjadi catatan serius yang tidak boleh diabaikan.

Pemda dinilai perlu memastikan ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai selama 24 jam, termasuk sistem respons cepat untuk kasus kegawatdaruratan.

Selain itu, perbaikan sarana dan prasarana, seperti kelayakan ambulans dan kesiapan alat medis, harus menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar rutinitas, melainkan menyangkut keselamatan nyawa manusia.

Oleh karena itu, langkah konkret dan cepat dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan demi menjamin hak masyarakat atas layanan kesehatan yang layak dan responsif.

Laporan: Redaksi

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook