BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com

Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan peninjauan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di dua titik sumur aset pertanian yang telah difungsikan kembali.

Apaun kedua titik tersebut masing-masing di Desa Eelahaji, Kecamatan Kulisusu dan Desa Soloy Agung, Kecamatan Kulisusu Barat, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan tersebut turut didampingi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Buton Utara serta perwakilan masyarakat yang sejak awal mengawal proses rehabilitasi sumur aset pertanian tersebut.

Perwakilan masyarakat, Muhammad Sakti Jaya, menjelaskan bahwa program JIAT ini merupakan bagian dari anggaran tahun 2025 yang bertujuan merehabilitasi sumur bor pertanian yang sebelumnya tidak berfungsi.

Sebelum dilakukan rehabilitasi, BWS Sultra terlebih dahulu melakukan serangkaian pengujian teknis, mulai dari pengecekan kedalaman sumur hingga uji kelayakan debit air.

“Pengujiannya meliputi pembersihan sumur selama dua jam, uji pendahuluan empat jam, uji tingkat I selama tiga jam, uji tingkat II tiga jam, dan uji tingkat III tiga jam. Seluruh tahapan ini berlangsung selama enam hari,” jelasnya.

Setelah uji tingkat III, dilakukan uji tetap selama tiga hari penuh (24 jam) untuk memastikan debit air memenuhi standar minimal, yakni 3 liter per detik.

”MTQ

“Alhamdulillah, hasil pengujian di Desa Eelahaji dan Soloy Agung menunjukkan debit air mencapai 3,38 liter per detik. Ini artinya sudah layak untuk mengairi lahan pertanian. Satu rumah pompa mampu mengairi hingga 5 hektare sawah,” ungkap Jaya.

Jaya menambahkan, keberhasilan dua titik tersebut menjadi langkah awal dalam menghidupkan kembali aset-aset pertanian yang sebelumnya terbengkalai.

Namun demikian, masih banyak sumur pertanian lain yang belum dapat direhabilitasi karena debit airnya belum memenuhi standar. Beberapa titik bahkan dinyatakan gagal setelah melalui pengujian.

“Seperti di Desa Waode Angkalo, dengan kedalaman 16 meter, debit airnya tidak mencapai 2 liter per detik, sehingga belum bisa dilanjutkan ke tahap rehabilitasi. Hal serupa juga terjadi di Desa Rante Gola,” terangnya.

Ke depan, BWS Sultra berencana melakukan penambahan kedalaman sumur pada titik-titik yang belum memenuhi standar, dengan harapan debit air dapat meningkat dan memungkinkan untuk direhabilitasi.

Untuk tahun 2026, masyarakat bersama pihak terkait menargetkan pengusulan hingga 20 titik sumur pertanian agar dapat difungsikan kembali. Namun, saat ini baru lima titik yang masuk dalam tahap rehabilitasi dan pengeboran baru.

“Lima titik tersebut berada di Desa Lahumoko, Morindino, Bubu Barat, serta kembali di Desa Eelahaji. Kami akan upayakan bertambah hingga 20 titik seperti daerah lain. Insyaallah pekerjaan dimulai Mei atau paling lambat Juli 2026,” ujarnya.

Menariknya, Kabupaten Buton Utara menjadi daerah pertama di Sulawesi Tenggara yang berhasil menyelesaikan pengujian debit sekaligus proses PHO (Provisional Hand Over) untuk program ini.

“Desa Eelahaji bahkan tercatat sebagai titik ke-60 yang paling awal berfungsi di tingkat provinsi,” jelasnya.

Dari sisi teknologi, sistem irigasi ini menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (solar panel), sehingga operasionalnya tidak memerlukan biaya listrik tambahan.

“Saat mesin dioperasikan, air dialirkan ke bangunan Thomson untuk pengujian debit, kemudian diteruskan ke box pembagi untuk mengairi kebun dan sawah masyarakat, khususnya di lahan kering,” pungkasnya.

Laporan: Redaksi

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook