BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com

Himpunan Mahasiswa Kulisusu (Hipmasus) menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus mengecam keras dugaan keterlambatan penanganan medis terhadap seorang bayi berusia dua bulan di Puskesmas Bonegunu, Kabupaten Buton Utara (Butur).

Kasus yang sempat viral di media sosial ini dinilai sangat memprihatinkan dan menyayat hati.

Bayi tersebut dilaporkan mengalami diare parah dengan frekuensi buang air besar hingga 15 kali sehari, namun harus menunggu lebih dari tiga hari untuk mendapatkan penanganan medis yang layak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah kendala serius terjadi dalam proses penanganan, mulai dari kegagalan pemasangan infus yang berulang kali, keterlambatan tenaga medis, hingga kondisi ambulans yang rusak dan tidak dapat digunakan.

Akibatnya, pasien terpaksa dirujuk menggunakan kendaraan pribadi yang tidak memenuhi standar medis.

“Kondisi ini menyebabkan kesehatan bayi semakin memburuk hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Buton Utara dan baru menunjukkan perbaikan setelah menjalani perawatan selama empat hari,” ungkap Ketua Hipmasus, Laode Muhammad Amal Mulyawan, dalam rilis persnya, Sabtu (25/04/2026).

Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan sekadar persoalan teknis atau administratif, melainkan menyangkut nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar.

”MTQ

Menurutnya, setiap nyawa terutama bayi dan kelompok rentan memiliki hak mutlak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, layak, dan tanpa diskriminasi.

“Menunda penanganan dalam kondisi gawat darurat adalah bentuk pengabaian terhadap nilai kehidupan yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam pelayanan publik,” tegasnya.

Hipmasus juga menilai insiden ini mencoreng profesionalitas tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas layanan.

Ketidaksiapan alat medis, tidak tersedianya transportasi rujukan yang memadai, serta lemahnya manajemen pelayanan menunjukkan adanya kegagalan sistem yang serius.

“Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan belum memenuhi standar yang seharusnya dijamin kepada masyarakat,” tambahnya.

Atas kejadian tersebut, Hipmasus mendesak Pemerintah Kabupaten Buton Utara, Dinas Kesehatan, serta pihak Puskesmas Bonegunu untuk segera melakukan investigasi menyeluruh dan transparan.

Mereka juga meminta agar pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan, serta dilakukan pembenahan total terhadap fasilitas dan kualitas sumber daya manusia di seluruh puskesmas di Buton Utara.

“Kami mendesak adanya klarifikasi terbuka kepada publik terkait penyebab kejadian ini serta langkah konkret yang akan diambil sebagai bentuk tanggung jawab,” ujarnya.

Hipmasus menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan nyawa adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

Mereka berharap kasus ini menjadi momentum evaluasi dan perbaikan menyeluruh demi mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media ini belum mendapatkan tanggapan resmi dari pihak Puskesmas Bonegunu terkait persoalan tersebut.

Lapora: Redaksi.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook