Oleh: La Ode Yus Asman

SIBERSULTRA.com – Siang itu, sekitar tahun 2013, langit Kota Kendari, Sulawesi tenggara (Sultra) tampak biru cerah, tapi panas matahari terasa membakar.

Jalan-jalan utama di jantung kota tidak seramai biasanya. Hanya beberapa kendaraan lalu lalang, dan suara deru mesin sesekali memecah keheningan.

Saya baru saja pulang dari sekolah. Seragam putih abu-abu saya sudah tampak kusam karena debu jalanan, namun hati terasa lega.

Hari itu, saya hanya ingin cepat sampai di rumah, beristirahat, dan menyiapkan diri untuk bersekolahagi keesokan harinya. Tidak ada firasat buruk sama sekali.

Namun, beberapa meter sebelum tikungan menuju rumah, tepat samping salah satu Mall di Kendari terjadilah pengalam buruk tersebut.

Hari yang awalnya biasa-biasa saja berubah menjadi pengalaman paling menegangkan dan menyakitkan dalam hidup saya.

Dari arah berlawanan, sebuah motor Satlantas polisi melaju cepat dan tiba-tiba memotong laju kendaraan saya. Saya kaget dan spontan menarik rem.

”MTQ

Ban depan motor saya tersenggol keras hingga hampir terjatuh. Dalam keadaan panik dan gemetar, saya hanya bisa menatap mereka dua orang polisi berseragam lengkap, dengan wajah kaku tanpa senyum.

Salah satu di antara mereka turun dengan tergesa, langsung mencabut kunci motor saya tanpa berkata apa-apa. Saya mencoba tetap tenang, meski jantung berdetak cepat.

“Ada apa, Pak? Saya melanggar apa?” tanya saya dengan nada hati-hati.

Namun, bukannya jawaban yang saya dapat, malah bentakan keras yang membuat orang-orang di sekitar menoleh.

“Jangan banyak tanya! Turun dulu! Buka helm!” bentaknya.

Suasana berubah mencekam. Saya merasa seperti pelaku kejahatan yang baru saja tertangkap. Padahal saya yakin tidak menyalahi aturan lampu menyala, helm terpasang, surat-surat lengkap ada di tas.

Saya berusaha menjelaskan dengan sopan bahwa surat – surat saya lengkap, tapi petugas itu tampak tidak peduli. Tatapannya tajam, nada bicaranya tinggi, dan sikapnya jauh dari profesional.

Beberapa detik kemudian, dengan suara lebih pelan tapi sarat tekanan, ia berkata,

“Kalau tidak mau repot, cepat kasih uang saja.”

Kalimat itu seperti tamparan keras di wajah saya. Rasa panas matahari tiba-tiba tak seberapa dibanding panas di dada saya.

Polisi yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom masyarakat malah meminta uang dengan cara menekan dan menakut-nakuti.

Saya menatapnya lama, mencoba memastikan bahwa saya tidak salah dengar. Tetapi sorot matanya meyakinkan saya: dia sungguh-sungguh.

“Saya tidak salah, Pak. Semua surat saya lengkap,” jawab saya pelan.

Ucapan itu membuat wajahnya berubah. Ia melengos, menatap rekan di atas motor, lalu mendengus kesal.

“Ya sudah, tunggu di sini kalau begitu,” katanya sambil memegang kunci motor saya erat-erat.

Saya dibiarkan berdiri di pinggir jalan di bawah terik matahari. Keringat bercucuran, tapi yang terasa bukan hanya panasnya cuaca, melainkan juga rasa malu dan marah yang bercampur jadi satu.

Beberapa pengendara lain sempat memperlambat laju motor mereka, menatap seolah ingin tahu apa yang terjadi. Tapi tak satu pun berhenti.

Mungkin mereka takut. Mungkin mereka sudah terlalu sering melihat kejadian semacam ini.

Detik demi detik berjalan lambat. Saya mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, menahan emosi. Dalam hati, saya berkata:

Beginikah wajah penegakan hukum di negeri ini?

Setelah hampir setengah jam, petugas itu akhirnya mengembalikan kunci motor saya. Tanpa kata maaf, tanpa penjelasan. Saya tahu, mereka kecewa karena saya tidak memberi “uang pelicin”.

Namun bagi saya, mempertahankan harga diri jauh lebih penting daripada menghindari repot.

Ketika motor saya kembali ke tangan, saya langsung menyalakannya dan pergi perlahan. Tapi meski tubuh saya sudah meninggalkan tempat itu, hati saya tertinggal tersangkut di antara rasa kecewa, takut, dan marah yang sulit dijelaskan.

Hari itu, saya belajar bahwa seragam bukan selalu simbol keadilan. Kadang, di balik seragam yang gagah, ada perilaku yang justru mencederai makna pengabdian.

Malamnya, saya tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, terngiang lagi bentakan itu, tatapan sinis itu, dan kalimat “cepat kasih uang saja” yang seperti menghantam harga diri saya sebagai warga biasa.

Saya sempat berpikir untuk melaporkan kejadian itu, tapi rasa takut lebih besar. Takut dibalas, takut dianggap pembuat masalah.

Namun waktu berjalan, dan peristiwa itu tetap membekas. Kini, lebih dari sepuluh tahun kemudian, saya menyadari bahwa diam bukan solusi. Diam justru membuat perilaku semacam itu terus berulang.

Pengalaman pahit itu membuat saya lebih memahami arti keberanian bukan berani melawan dengan tangan, tapi berani menyuarakan yang benar, berani menolak ketika disalahgunakan, dan berani percaya bahwa tidak semua polisi seperti mereka.

Saya tahu, masih banyak aparat yang jujur dan bekerja dengan hati. Tapi saya juga tahu, satu tindakan buruk dari seorang oknum bisa merusak kepercayaan masyarakat yang dibangun bertahun-tahun.

Peristiwa tahun 2013 itu menjadi cambuk bagi saya untuk terus menulis, berbicara, dan berani mengungkapkan kebenaran. Karena hanya dengan cara itu, keadilan bisa tetap hidup meski perlahan, meski tertatih.

Dan sampai hari ini, setiap kali saya melihat polisi di jalan, saya masih menunduk sejenak. Bukan karena takut, tapi karena kenangan itu selalu datang mengingatkan bahwa keadilan tidak datang dari seragam, melainkan dari hati yang benar. (*)

Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook