SPPG Lemoea Disorot: Dugaan Monopoli dan Mark Up Pengadaan Bahan, Kepala Dapur Buka Suara
BUTON UTARA – SIBERSULTRA.com
Pengelolaan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lemoea, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara (Butur), menjadi sorotan setelah muncul dugaan praktik monopoli penyediaan bahan serta indikasi mark up dalam pengadaan kebutuhan menu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak yang bertanggung jawab dalam operasional dapur, termasuk kepala SPPG, diduga memiliki keterlibatan dalam penentuan pemasok bahan bersama sejumlah pihak tertentu.
Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan tidak sejalan dengan prinsip tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Seharusnya, Pengelola dapur fokus menjalankan tugas pokok sesuai fungsi masing-masing.
Keterlibatan langsung dalam proses penyediaan bahan dikhawatirkan membuka ruang bagi praktik yang mengarah pada keuntungan di luar tugas yang diamanahkan.
Selain dugaan monopoli, pengelolaan dapur SPPG Lemoea juga disebut-sebut terindikasi melakukan mark up.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa daftar kebutuhan bahan atau menu yang disampaikan kepada mitra penyedia tidak selalu lengkap.
Kekurangan bahan dalam paket menu tersebut diduga diatur oleh pihak pengelola dapur.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terkait transparansi serta kualitas pelaksanaan program pemenuhan gizi.
Sistem pengadaan yang tidak terbuka berpotensi memengaruhi kualitas bahan, kecukupan porsi, hingga efektivitas program yang dijalankan.
Sejumlah pihak menilai, untuk mencegah praktik monopoli dan konflik kepentingan, mekanisme penyediaan bahan seharusnya sepenuhnya dilakukan oleh mitra secara terbuka dan berdasarkan kebutuhan menu yang telah ditetapkan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Lemoea Itran Nastion menegaskan bahwa seluruh proses penyediaan bahan diserahkan kepada mitra.
“Untuk suplai bahan itu semuanya diserahkan kepada mitra. Mitra yang kemudian membagi ke sesama mitra atau supplier mana yang akan digunakan untuk kebutuhan dapur,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (1/3/2026).
Ia menjelaskan, peran kepala dapur hanya sebatas melakukan seleksi atau penyortiran terhadap supplier yang dinilai layak memasok bahan.
“Kalau keterlibatan kepala dapur hanya menyortir supplier mana yang akan diambil bahannya. Sedangkan pengadaan tetap dilakukan oleh mitra,” jelasnya.
Terkait informasi adanya daftar kebutuhan yang tidak lengkap, pihaknya membantah hal tersebut dan memastikan ketersediaan bahan selalu terpenuhi.
“Alhamdulillah, untuk bahan semuanya lengkap. Sejauh ini proses di dapur berjalan sebagaimana mestinya, ketersediaan bahan selalu ada dan suplai dilakukan melalui mitra ke para supplier,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seluruh pihak bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing tanpa adanya kepentingan tertentu.
“Kami menjalankan tugas sesuai tupoksi. Tidak ada unsur kepentingan. Kami hanya memastikan operasional dapur berjalan dengan baik,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga kelancaran operasional dapur agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat berjalan optimal tanpa kendala.
Laporan: Asman Ode




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook