Swadaya Petani Busel Buka Jalan Tani, Patungan Rp6 Juta Per Hari Sewa Alat Berat
BUTON SELATAN – SIBERSULTRA.com
Jagat maya belakangan ini diramaikan oleh unggahan warga terkait aksi gotong royong kelompok tani di Kelurahan Katilombu, Lingkungan Wawulaka, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan.
Para petani dengan penuh antusias membuka akses jalan menuju kebun mereka secara swadaya dengan menggunakan alat berat hasil patungan. Jalan yang dibuka melintasi areal tani Desa Wawoangi.
Samsuri, Ketua Kelompok Tani Waopini, menuturkan bahwa inisiatif ini murni lahir dari kesadaran anggota kelompok.
“Ini atas inisiatif kami sendiri. Alat berat kami sewa dari hasil patungan. Biarlah kami belajar mandiri, karena kalau mengharapkan bantuan dari pemerintah, entah kapan datangnya,” ungkapnya dengan nada kecewa, pada Rabu (24/9/2025).
Aksi swadaya ini semakin mendapat sorotan setelah seorang warga, Kadir Dir, mengunggah video berdurasi 46 detik di media sosial.
Video tersebut memperlihatkan alat berat serta para pekerja yang beristirahat kelelahan di bawah pohon.
“Saya sengaja buat video itu, siapa tahu pemerintah daerah, provinsi maupun pusat bisa tersentuh hatinya,” jelas Kadir
“Sewa alat berat ini Rp6 juta per hari, semua kami tanggung patungan,” tambahnya
Menurutnya, jalan tani sangat penting karena selama ini petani hanya bisa memikul hasil kebun.
Dengan adanya akses jalan baru, kendaraan roda dua maupun roda empat bisa masuk hingga ke kebun, mempermudah distribusi hasil tani.
Saat ini, Kelompok Tani Waopini memiliki sekitar 100 KK, dengan 80 KK di antaranya sudah aktif berkebun.
Fenomena swadaya masyarakat ini bukan hal baru. Gotong royong telah lama menjadi tradisi bangsa.
Namun, yang menarik, gerakan semacam ini kini semakin masif muncul di berbagai desa.
Pertanyaannya, apakah ini bentuk kesadaran kolektif warga akan pentingnya peran masyarakat dalam pembangunan, atau justru sinyal protes diam terhadap lambatnya respons pemerintah?
Di satu sisi, publik memuji semangat kemandirian petani. Namun di sisi lain, hal ini juga mengundang kritik terhadap kapasitas dan sensitivitas pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya infrastruktur pertanian.
Inilah wajah negeriku, di tengah keterbatasan anggaran dan birokrasi yang lambat, semangat gotong royong masyarakat tetap menyala sebagai solusi.
Laporan: Salmudin.H





Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook