Mahasiswa Unsultra Hadirkan Buku Modul Ajar Tari Tradisional Tolaki untuk Pelestarian Budaya di SDN 02 Konda
KONAWE SELATAN – SIBERSULTRA.com
Mahasiswa Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) yang tergabung dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PGSD menghadirkan inovasi baru dalam dunia pendidikan melalui penyusunan buku modul ajar berjudul “Muatan Lokal Tari Tradisional Tolaki” pada 13 Oktober 2025.
Buku tersebut diperuntukkan bagi peserta didik di SD Negeri 02 Konda, Kabupaten Konawe Selatan, sebagai upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya Tolaki sejak usia dini.
Penyusunan modul ini merupakan bagian dari implementasi program Sanggar Tari Anak Desa, yang menjadi fokus utama PPK Ormawa HMPS PGSD Unsultra dalam menjembatani nilai-nilai budaya lokal dengan sistem pembelajaran di sekolah dasar.
“Kami ingin memastikan anak-anak sejak dini sudah mengenal budaya Tolaki, khususnya melalui seni tari. Modul ajar ini dirancang agar guru mudah mengajarkan materi budaya secara interaktif dan menyenangkan,” ujar Hasrina, Ketua Tim Program PPK Ormawa HMPS PGSD Unsultra, kepada media ini , Minggu (19/10/2025).
Buku modul ini berisi materi tentang sejarah tari Tolaki, makna simbolik dalam setiap gerak, ragam kostum dan musik pengiring, serta panduan langkah-langkah dasar tari tradisional.
Penyusunannya juga mengikuti pendekatan Merdeka Belajar, sehingga kegiatan belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal sekolah.
Kepala SD Negeri 02 Konda menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif mahasiswa Unsultra yang dinilai memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan dasar.
“Kami sangat berterima kasih atas karya luar biasa ini. Modul ajar ini menjadi sumber belajar yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menanamkan rasa bangga terhadap budaya daerah sendiri,” ungkap Kepala SDN 02 Konda.
Selain menjadi bahan ajar, modul tersebut juga diharapkan dapat menjadi referensi muatan lokal bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Konawe Selatan untuk memperkuat pembelajaran berbasis budaya daerah.
“Kami berharap modul ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lain untuk mengembangkan pembelajaran yang berakar pada nilai-nilai lokal. Pelestarian budaya bisa dimulai dari ruang kelas,” tambah Kepala Program Studi PGSD Unsultra.
Melalui karya ini, mahasiswa Unsultra membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan seni dan sanggar, tetapi juga lewat pendidikan formal yang berkelanjutan.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda mampu menjadi pelopor dalam menjaga warisan budaya bangsa melalui inovasi pendidikan.
Laporan: Redaksi




Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook